Logo Header Antaranews Papua

Wagub minta warga delapan kabupaten Papua Pegunungan hentikan perang suku

Sabtu, 9 Mei 2026 19:39 WIB
Image Print
Wagub Papua Pegunungan Ones Pahabol didampingi Bupati Jayawijaya Atenius Murib diwawancarai sejumlah wartawan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. ANTARA/Yudhi Efendi

Wamena (ANTARA) - Wakil Gubernur (Wagub) Papua Pegunungan Ones Pahabol meminta warga di delapan kabupaten di provinsi itu untuk menghentikan perang antarsuku.

“Kami minta dengan tegas menghentikan konflik dan kekerasan dalam rumah tangga hingga sampai perang suku harus dihentikan sekarang juga,” katanya di Wamena, Sabtu.

Hal ini menyusul masih terjadinya perang suku di antara Suku Lanny Jaya yang terjadi di Wouma, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Menurut dia, perang suku ini mencerminkan bahwa masyarakat Papua Pegunungan tidak memiliki integritas kepercayaan kepada Allah, Tuhan Yesus.

“Masyarakat harus memiliki integritas percaya kepada Allah supaya dijauhi dari pengaruh iblis, sehingga perang suku atau kekerasan di Papua Pegunungan dapat dihentikan,” ujarnya.

Dia menjelaskan perang suku jangan lagi dijadikan sebagai budaya orang asli Papua (OAP), khususnya orang Papua Pegunungan dan orang Papua di lima provinsi di Tanah Papua.

“Dengan terjadinya perang suku, kekerasan, harga diri manusia itu hilang. Sehingga, kami sebagai representasi wakil Allah di dunia meminta untuk perang suku dan kekerasan dalam bentuk apapun supaya dihentikan,” katanya.

Dia menambahkan setelah perang itu akan dilakukan pembayaran kepala korban kedua belah pihak yang meninggal, dan itu biasanya dibebankan kepada pemerintah daerah.

“Untuk saat ini, di bawah kuasa Tuhan kami tolak pembayaran kepala yang dilakukan oleh pemerintah daerah menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), karena sebagai pemerintah harus mengikuti hukum Tuhan dan hukum positif dalam menyelesaikan masalah,” ujarnya.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Wagub minta warga 8 kabupaten Papua Pegunungan hentikan perang suku



Pewarta :
Editor: Hendrina Dian Kandipi
COPYRIGHT © ANTARA 2026