Senin, 21 Agustus 2017

Freeport gandeng gereja berdayakan ekonomi warga Kamoro

id Freeport gandeng gereja berdayakan ekonomi warga Kamoro, LPMAK, Papua
Freeport gandeng gereja berdayakan ekonomi warga Kamoro
Uskup Timika Mgr John Philip Saklil Pr didampingi Vice President PT Freeport bidang Social Local Development Claus Wamafma, Kepala Distrik Mimika Baru saat peluncuran program ekonomi di 8 kampung wilayah pesisir Mimika, Kamis (27/7). (Foto: Antara Papua/Evarianus Supar)
Yang kami lakukan sekarang sebagai penguatan terhadap hal-hal yang sudah dikerjakan sebelumnya. Apa-apa yang masih kurang perlu diperbaiki agar ke depan masyarakat Suku Kamoro di delapan kampung benar-benar menjadi subyek dari program itu
Timika (Antara Papua) - PT Freeport Indonesia menggandeng Gereja Katolik Keuskupan Timika dalam melakukan program pemberdayaan ekonomi masyarakat Suku Kamoro yang bermukim pada delapan kampung di wilayah pesisir Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.

Vice President PT Freeport Bidang Social & Local Development Claus Wamafma di Timika, Jumat, mengatakan kerja sama antara Freeport dengan Gereja Katolik Keuskupan Timika dalam memberdayakan masyarakat Suku Kamoro di wilayah pesisir Mimika sudah berlangsung cukup lama baik di bidang ekonomi (pemberdayaan ekonomi nelayan), pendidikan, kesehatan dan lainnya.

"Yang kami lakukan sekarang sebagai penguatan terhadap hal-hal yang sudah dikerjakan sebelumnya. Apa-apa yang masih kurang perlu diperbaiki agar ke depan masyarakat Suku Kamoro di delapan kampung benar-benar menjadi subyek dari program itu dan pada gilirannya nanti mereka bisa mandiri," jelas Claus.

Kerja sama antara PT Freeport Indonesia dengan pihak Keuskupan Timika melalui Koperasi Maria Bintang Laut tersebut difokuskan pada penguatan ekonomi masyarakat delapan kampung pesisir Mimika yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan.

Melalui kerja sama dimaksud, PT Freeport dan Koperasi Maria Bintang Laut Keuskupan Timika memberikan bantuan alat tangkap atau sarana produksi berupa jaring, bahan bakar minyak (BBM), cool box, timbangan, es balok yang digunakan oleh para nelayan lokal untuk bisa menghidupi ekonomi keluarga mereka.

Adapun delapan kampung Suku Kamoro di wilayah pesisir Mimika yang menjadi titik sasaran program tersebut yaitu Koperapoka, Nawaripi, Nayaro, Tipuka, Ayuka di Distrik Mimika Baru dan Mimika Timur serta tiga kampung di Distrik Mimika Timur Jauh yang meliputi Fanamo dan Omawita (Manasari) serta Otakwa (Omouga).

Selain bantuan sarana produksi, kedua belah pihak juga akan terlibat langsung dalam memberikan pelatihan dan pendampingan serta mendidik masyarakat untuk gemar menabung.

Claus mengatakan PT Freeport terus berkomitmen penuh melakukan kewajibannya untuk memberdayakan masyarakat lokal di sekitar area pertambangan, apalagi saat ini pemerintahan Presiden Joko Widodo memberikan perhatian yang sangat besar dalam memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial masyarakat Papua.

"Suatu saat perusahaan tidak ada lagi di sini. Maka itu, masyarakat lokal harus bisa mandiri terutama dalam hal ekonomi. Hingga sekarang ada banyak isu yang digumuli oleh perusahaan, mudah-mudahan perusahaan bisa beroperasi normal kembali agar perhatian kepada masyarakat lokal menjadi lebih baik," kata Claus.

Uskup Timika Mgr John Philip Saklil menyambut baik kerja sama dengan PT Freeport dalam upaya memberdayakan masyarakat Suku Kamoro di pesisir Mimika.

Uskup Saklil mengakui pekerjaan memberdayakan masyarakat lokal cukup berat dengan tingkat kemampuan dan partisipasi yang masih cukup rendah dari warga terhadap berbagai program dan bantuan yang diberikan oleh PT Freeport maupun pemerintah.

Kondisi itu diperparah dengan faktor budaya, adat-istiadat yang kurang mendukung seperti hidup berfoya-foya, konsumsi minuman beralkohol dan pemahaman yang masih sangat terbatas dalam hal memanfaatkan potensi sumber daya alam dan pendapatan yang diperoleh untuk melakukan sesuatu yang lebih bernilai.

"Sekalipun ada banyak ketidakberhasilannya, namun kita semua tidak boleh berputus asa untuk terus memberdayakan masyarakat lokal. Dari banyak benih yang tidak bertumbuh, pasti ada benih yang bertumbuh subur dan menghasilkan buah. Jadi, tidak boleh berhenti untuk menabur," pesan Uskup Saklil.

Dalam kesempatan itu, PT Freeport menyerahkan lima unit kendaraan bus yang akan digunakan untuk transportasi masyarakat delapan kampung di pesisir Mimika kepada pengelola dalam hal ini Koperasi Maria Bintang Laut Keuskupan Timika.

PT Freeport juga memberikan bantuan sebuah pabrik es balok berkapasitas 2 ton perhari yang akan digunakan untuk kepentingan mengawetkan ikan dan hasil produksi nelayan lokal.

Adapun bantuan jaring, cool box dan timbangan yang jumlahnya mencapai 100 unit akan langsung dibagikan kepada warga pada delapan kampung di wilayah pesisir Mimika.

Program pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal Suku Kamoro di wilayah pesisir Mimika itu efektif dimulai pada minggu pertama bulan Agustus 2017 melalui kegiatan penimbangan ikan dan pemberian bantuan BBM di delapan kampung. (*)

Editor: Anwar Maga

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga