
BMKG imbau warga di Papua Pegunungan mewaspadai cuaca ekstrem

Wamena (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika atau BMKG melalui Stasiun Meteorologi Kelas III Wamena, Kabupaten Jayawijaya, mengimbau warga di delapan kabupaten Papua Pegunungan untuk mewaspadai cuaca ekstrem.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Wamena Laura SM Runggeari di Wamena, Kamis, mengatakan dari prakiraan cuaca saat ini wilayah Papua Pegunungan dan sekitarnya baru memasuki fase peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, sehingga warga harus meningkatkan kewaspadaan.
“Kami dapat menyampaikan saat ini Kabupaten Jayawijaya maupun tujuh kabupaten lain di Papua Pegunungan baru memasuki musim peralihan dari panas ke hujan, dan puncaknya (musim hujan) dari hasil prakiraan cuaca akan berlangsung pada bulan Januari 2026. Warga kami imbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan, sehingga tidak terjadi korban jiwa,” katanya.
Menurut dia, wilayah Papua Pegunungan masuk dalam zona musim, baik panas maupun hujan, yang dapat berlangsung dua hingga tiga bulan ke depan.
“Papua Pegunungan masuk zona musim, sehingga dari hasil pengamatan cuaca puncak musim hujannya akan terjadi pada Desember 2025 hingga Januari-Februari 2026 atau tiga bulan ke depan dengan intensitas sedang hingga lebat,” ujarnya.
Dia menjelaskan beberapa tahun terakhir ini puncak hujan terjadi pada Februari dan Maret, sehingga pada bulan April 2025 terjadi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor di Kabupaten Jayawijaya.
“Kami juga telah membuat laporan analisis prakiraan cuaca selama periode satu tahun sejak April hingga November 2025, wilayah Papua Pegunungan banyak mengalami kejadian bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor,” katanya.
Dia menambahkan bencana hidrometeorologi di Papua Pegunungan menyebabkan banjir dan tanah longsor di Distrik Dal dan Mebarok Kabupaten Nduga.
“Faktor dominan yang menyebabkan terjadinya fenomena ini adalah gelombang atmosfer dari skala regional. Akibat kelembaban udara yang tinggi menghasilkan uap air yang cukup banyak, sehingga membentuk proses terjadinya awan hujan dan menyebabkan terjadinya hujan deras,” ujarnya.
Pewarta : Yudhi Efendi
Editor:
Muhsidin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
