
Pemprov Papua Tengah jadikan kopi dan kakao pengungkit ekonomi daerah

Nabire (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Papua Tengah menjadikan budidaya kopi dan kakao sebagai salah satu prioritas pengembangan sektor pertanian untuk mengungkit ekonomi daerah sekaligus menekan angka kemiskinan.
Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa di Nabire, Sabtu mengatakan, pada tahun ini pemerintah menargetkan penanaman satu juta pohon kopi di seluruh kabupaten wilayah pegunungan.
“Tahun ini kami mulai dengan penanaman satu juta pohon kopi dan fokus pada pembinaan petani di Kabupaten Paniai, Dogiyai, Puncak Jaya, dan Intan Jaya agar produksi meningkat dan pendapatan masyarakat bertambah,” katanya.
Menurut dia, pembinaan tersebut meliputi teknik budidaya seperti pemangkasan, pemupukan, pengendalian hama, hingga teknik panen dan pascapanen guna meningkatkan kualitas hasil.
Selain kopi, pemerintah juga mengalokasikan anggaran Rp65 miliar untuk pengembangan kakao di Kabupaten Nabire.
Kedua komoditas tersebut dinilai memiliki potensi ekspor besar, bahkan kopi kerap disebut sebagai “emas hitam” karena nilai ekonominya yang tinggi.
Ia berharap, bantuan pada awal masa pemerintahannya dapat mendorong pengembangan perkebunan kopi dan kakao secara berkelanjutan sehingga dalam lima tahun ke depan masyarakat memiliki sumber pendapatan yang lebih baik dan mampu keluar dari kemiskinan.
Ia menambahkan, potensi ekonomi Papua Tengah sangat besar karena wilayahnya diapit laut di bagian utara dan selatan serta memiliki lahan luas untuk pengembangan pertanian dan perkebunan.
“Papua Tengah memiliki kekayaan alam luar biasa sehingga harus dikelola dengan baik. Kami berupaya membuka semua potensi, baik perikanan, pertanian, perkebunan, maupun peternakan,” ujarnya.
Pemerintah provinsi juga menjajaki kerja sama investasi peternakan babi di Kabupaten Mimika dengan kapasitas 3.000 ekor senilai sekitar 1,1 juta dolar AS sebagai bagian dari penguatan sektor ekonomi masyarakat.
Selain itu, Pemprov Papua Tengah mendorong terbentuknya ekosistem usaha mandiri melalui koperasi dan UMKM.
Koperasi dan UMKM sebagai wadah hilirisasi komoditas unggulan seperti kopi dan kakao. Pendampingan dilakukan agar koperasi dapat menjadi pemasok logistik bagi perusahaan besar yang beroperasi di daerah, termasuk PT Freeport Indonesia.
Pengelolaan potensi ekonomi yang optimal diyakini dapat membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, menaikkan indeks pembangunan manusia (IPM), serta berdampak pada kesejahteraan dan kesehatan masyarakat.
“Seluruh program pembangunan ekonomi tersebut dibungkus dalam prinsip berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Pewarta : Ali Nur Ichsan
Editor:
Hendrina Dian Kandipi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
