
Balai bahasa dorong pelestarian bahasa daerah di Tanah Papua

Wamena (ANTARA) - Balai Bahasa Papua Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong pelestarian bahasa daerah di Tanah Papua guna menjaga eksistensi “penutur” sehingga penggunaan bahasa asli tidak punah di Bumi Cenderawasih.
Kepala Balai Bahasa Papua Valentina Lovina Tanate dalam keterangan tertulis di Wamena, Senin mengatakan kepunahan bahasa daerah di Tanah Papua dapat terjadi, apabila bahasa daerah tersebut tidak dilestarikan dan dijaga.
“Bahasa daerah di Papua itu kan sangat banyak, namun jumlah penuturnya sangat sedikit. Ini yang menjadi atensi besar kami untuk terus melestarikan dan menjaganya sehingga tidak punah,” katanya.
Menurut dia, salah satu bahasa di Tanah Papua yang hampir punah adalah bahasa Yaur di Nabire, Papua Tengah.
“Kami mencontohkan tahun lalu kami melakukan pemetaan bahasa daerah di Nabire, di mana bahasa daerah Yaur itu jumlah masyarakatnya banyak tetapi mereka tidak bisa berbicara secara baik menggunakan bahasa daerah Yaur, bahkan kami hanya mengumpulkan 60 kosa kata,” ujarnya.
Dia menjelaskan dengan pemetaan bahasa daerah yang telah dilakukan, bahasa daerah ini Tanah Papua terancam punah.
“Bahasa daerah Tanah Papua terancam punah, maka perlu edukasi kepada masyarakat sehingga bahasa-bahasa daerah ini dapat terawat dan dilestarikan secara baik,” katanya.
Dia menambahkan oleh karena sosialisasi kepada masyarakat asli Papua terus dilakukan supaya warisan bahasa yang telah dipergunakan turun-temurun dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.
“Kami harap dengan upaya yang kami lakukan penutur-penutur bahasa daerah asli dapat menurunkan kepada generasi selanjutnya. Kami juga harap generasi muda Papua dapat melestarikan bahasa daerah mereka sebagai sebuah identitas dan warisan untuk masa depan,” ujarnya.
Bahasa daerah di Indonesia yang telah teridentifikasi dan divalidasi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI pada awal bulan April 2026 berjumlah 729, dan 428 di antaranya berada di Tanah Papua.
Pewarta : Yudhi Efendi
Editor:
Hendrina Dian Kandipi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
