Permintaan kayu Papua di luar negeri meningkat
Sabtu, 16 April 2016 10:25 WIB
Ilustrasi kayu hasil hutan yang perlu diawasi (Foto: Antara News)
Biak (Antara Papua) - Kepala Dinas Kehutanan dan Konservasi Papua Yan Yap L Ormuseray mengakui, permintaan eskpor kayu olahan dari hutan tanah Papua di berbagai negara mengalami peningkatan signifikan setiap tahun.
"Negara Eropa, Asia Tiongkok, Korea serta Amerika menjadi pangsa pasar kayu Papua yang menjanjikan," ungkap Kadis Kehutanan dan Konservasi Yan Yap Ormuseray menjawab Antara setelah penutupan rakorbang kehutanan Papua berlangsung di Biak.
Ia mengatakan, ekspor perdana kayu Papua dilangsungkan di pelabuhan Jayapura dengan jumlah 100 kontainer atau berkisar 1500-200 kubik kayu menjadi bukti akan keseriusan pemerintah menjawab permintaan kayu Papua di luar negeri.
Ia mengharapkan, peluang bisnis pasar kayu Papua yang diminati negara luar negeri dapat menjadi pemacu produksi kayu dilakukan pengusaha pemegang ijin hak pengusahaan hutan atau ijin usaha pemanfaatan hutan masyarakat adat.
"Adanya ekspor kayu asal Papua keluar negeri diharapkan akan memberikan manfaat ekonomi untuk masyarakat pemilik hak ulayat dan pemda," kata Kadis Kehutanan Yan Yap Ormuseray.
Dari data dimiliki dinas kehutanan, menurut Yan Yap, jumlah perusahaan pemegang ijin usaha industri perkayuan kehutanan mencapai 36 serta 18 koperasi adat sebagai pemegang ijin usaha pemanfaatan hutan adat.
Kadis kehutanan Yan Yap berharap, permintaan pasar ekspor kayu Papua di luar negeri akan menjadi tantangan baru buat industri perkayuan di tanah Papua.
"Pemerintah provinsi lewat dinas kehutanan dan konservasi akan mendorong peningkatan produksi kayu Papua untuk menjawab kebutuhan ekspor ke berbagai negara di Aias dan Eropa," kata Kadis Kehutanan Yan Yap Ormuseray.
Bedasarkan data produksi olahan kayu industri perkayuan di Papua masih didominasi jenis flywood dari tahun 2011 hingga 2015 mencapai 29.573.6300 meter kubik , urutan kedua jenis sawn timber sebanyak 125.406.9980 meter kubik serta moulding 31.365,9260 meter kubik.(*)
"Negara Eropa, Asia Tiongkok, Korea serta Amerika menjadi pangsa pasar kayu Papua yang menjanjikan," ungkap Kadis Kehutanan dan Konservasi Yan Yap Ormuseray menjawab Antara setelah penutupan rakorbang kehutanan Papua berlangsung di Biak.
Ia mengatakan, ekspor perdana kayu Papua dilangsungkan di pelabuhan Jayapura dengan jumlah 100 kontainer atau berkisar 1500-200 kubik kayu menjadi bukti akan keseriusan pemerintah menjawab permintaan kayu Papua di luar negeri.
Ia mengharapkan, peluang bisnis pasar kayu Papua yang diminati negara luar negeri dapat menjadi pemacu produksi kayu dilakukan pengusaha pemegang ijin hak pengusahaan hutan atau ijin usaha pemanfaatan hutan masyarakat adat.
"Adanya ekspor kayu asal Papua keluar negeri diharapkan akan memberikan manfaat ekonomi untuk masyarakat pemilik hak ulayat dan pemda," kata Kadis Kehutanan Yan Yap Ormuseray.
Dari data dimiliki dinas kehutanan, menurut Yan Yap, jumlah perusahaan pemegang ijin usaha industri perkayuan kehutanan mencapai 36 serta 18 koperasi adat sebagai pemegang ijin usaha pemanfaatan hutan adat.
Kadis kehutanan Yan Yap berharap, permintaan pasar ekspor kayu Papua di luar negeri akan menjadi tantangan baru buat industri perkayuan di tanah Papua.
"Pemerintah provinsi lewat dinas kehutanan dan konservasi akan mendorong peningkatan produksi kayu Papua untuk menjawab kebutuhan ekspor ke berbagai negara di Aias dan Eropa," kata Kadis Kehutanan Yan Yap Ormuseray.
Bedasarkan data produksi olahan kayu industri perkayuan di Papua masih didominasi jenis flywood dari tahun 2011 hingga 2015 mencapai 29.573.6300 meter kubik , urutan kedua jenis sawn timber sebanyak 125.406.9980 meter kubik serta moulding 31.365,9260 meter kubik.(*)
Pewarta : Pewarta: Muhsidin
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Gubernur Papua MD Fakhiri lepas ekspor 10 kontainer kayu olahan ke Shanghai
25 November 2025 21:22 WIB
Pemkab jadikan lukisan kulit kayu produk kerajinan unggulan Jayapura
09 February 2025 0:02 WIB, 2025
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
Wamen Angga sebut Papua harus jadi bagian pusat konektivitas digital Asia Pasifik
08 May 2026 14:42 WIB