Logo Header Antaranews Papua

BPS catat emas dan ikan tuna sumbang inflasi Papua pada April 2026

Senin, 4 Mei 2026 21:25 WIB
Image Print
Suasana Pasar Ikan Hamadi di Kota Jayapura, Papua. ANTARA/Qadri Pratiwi

Jayapura, Papua (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) sebesar 3,80 persen pada April 2026, yang terutama disumbang kenaikan harga emas perhiasan dan ikan tuna.

Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Papua Emi Puspitarini di Jayapura, Papua, Senin, mengatakan indeks harga konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 105,83 pada April 2025 menjadi 109,85 pada April 2026, yang dipicu naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran.

"Secara rinci, komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang andil inflasi tahunan terbesar dengan kontribusi 0,84 persen," katanya.

Disusul, ikan tuna sebesar 0,70 persen dan tomat sebesar 0,31 persen.

"Selain itu, tarif angkutan udara juga tercatat sebagai salah satu pemicu inflasi dengan andil 0,26 persen," ujarnya.

Dia menjelaskan komoditas lain yang turut mendorong inflasi antara lain daging ayam ras sebesar 0,24 persen, beras 0,21 persen, kangkung 0,20 persen, serta cabai rawit 0,17 persen.

"Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga atau memberikan andil deflasi, di antaranya ikan mumar, uang sekolah menengah atas, bawang putih, bayam, dan buah pinang," katanya lagi.

Dia menambahkan secara bulanan atau month-to-month (mtm), inflasi Papua pada April 2026 tercatat sebesar 0,98 persen, sementara inflasi year-to-date (ytd) berada pada angka 1,39 persen.



Pewarta :
Editor: Hendrina Dian Kandipi
COPYRIGHT © ANTARA 2026