Dipecat junta militer, Dubes Myanmar untuk PBB bersumpah melawan kudeta
Duta besar Myanmar untuk PBB Kyaw Moe Tun menunjukkan salam tiga jari pada akhir pidatonya di hadapan Majelis Umum di Markas Besar PBB di kawasan Manhattan, New York City, New York, Amerika Serikat, Jumat (26/2/2021). Kyaw Moe Tun meminta masyarakat internasional menindak kudeta militer di negaranya. ANTARA FOTO/United Nations TV/Handout via REUTERS/AWW/djo
"Saya memutuskan untuk melawan selama saya bisa," kata Duta Besar Myanmar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kyaw Moe Tun kepada Reuters, Sabtu (27/2).
Televisi pemerintah Myanmar pada Sabtu mengumumkan bahwa Kyaw Moe Tun telah dipecat karena mengkhianati negara.
PBB tidak secara resmi mengakui junta sebagai pemerintah baru Myanmar karena belum menerima pemberitahuan resmi tentang perubahan apa pun, kata seorang pejabat PBB, yang berbicara tanpa menyebut nama.
Dengan demikian, Kyaw Moe Tun tetap menjadi duta besar Myanmar untuk saat ini.
"Kami belum menerima pernyataan apa pun mengenai perubahan perwakilan Myanmar di PBB di New York," kata juru bicara PBB Stephane Dujarric.
Utusan khusus Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, pada Jumat (26/2) memperingatkan 193 anggota Majelis Umum PBB agar tidak mengakui atau melegitimasi junta Myanmar.
Jika junta Myanmar, yang dipimpin oleh Jenderal Min Aung Hlaing, mencoba untuk mendapatkan pengakuan internasional dengan mengirim utusan baru untuk PBB, junta akan memicu pertarungan di badan dunia itu --yang dapat berujung dengan pemungutan suara di Majelis Umum PBB.
PBB sebelumnya harus menangani klaim berbeda soal perwakilan di badan dunia itu.
Pada September 2011, Majelis Umum PBB menyetujui permintaan Libya untuk mengakreditasi utusan pemerintah sementara negara itu.
Langkah itu diambil PBB setelah Amerika Serikat, Rusia, China, dan negara-negara Eropa mengakui otoritas baru Libya.
Kyaw Moe Tun mengatakan kepada PBB pada Jumat bahwa dia berbicara atas nama pemerintah Suu Kyi dan meminta bantuan untuk membatalkan "kudeta militer ilegal dan inkonstitusional."
Para anggota parlemen terpilih yang digulingkan dalam kudeta telah membentuk sebuah komite dan Kyaw Moe Tun mengatakan komite tersebut adalah "pemerintah Myanmar yang sah dan dipilih dengan semestinya dan harus diakui oleh komunitas internasional."
Guterres telah berjanji untuk memobilisasi tekanan internasional "untuk memastikan kudeta ini gagal."
Dewan Keamanan telah menyuarakan keprihatinan atas keadaan darurat tersebut, tetapi tidak mengutuk kudeta tersebut karena ditentang oleh Rusia dan China.
Sumber : Reuters
Pewarta : Azis Kurmala
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Satgas Damai Cartenz tak gunakan gereja di Oksop sebagai pos militer
21 January 2025 16:42 WIB, 2025
Kapolri beri materi strategi pemberantasan korupsi Kabinet Merah Putih di retret
25 October 2024 21:17 WIB, 2024
Dandim 1708/BN pimpin upacara pemakaman militer almarhum Prada Edoard
10 January 2023 18:49 WIB, 2023
Jenazah Babinsa Koramil Wartas Serda Tomi Karter diterbangkan ke Padang
10 January 2023 16:35 WIB, 2023
Dua kapal perang dan pesawat militer mencari prajurit hilang di Yapen
09 January 2023 11:40 WIB, 2023
Pangdam XVII/Cenderawasih: 18 prajurit Yonif Raider 600 diperiksa POM
14 September 2022 19:28 WIB, 2022
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Kemenlu RI pastikan Indonesia berkontribusi lebih di kawasan Pasifik
14 October 2024 20:59 WIB, 2024