DPD RI mendukung perpanjangan kerja sama pertanian Indonesia-Chile
Jumat, 11 Juni 2021 3:51 WIB
Ketua DPD RI LaNyalla Mahmud Mattalitti. ANTARA/HO-DPD RI.
Surabaya (ANTARA) - Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mendukung upaya perpanjangan kerja sama sektor pertanian dengan Chile, karena Indonesia membutuhkan pasar dunia untuk memasarkan hasil tani dan produk lainnya.
"Chile memiliki peranan yang cukup penting di Amerika Latin, dengan kerja sama yang saling menguntungkan, Indonesia dapat mengembangkan ekspor pertanian ke Brasil dan negara Amerika Latin lainnya melalui Chile," tutur LaNyalla, saat kunjungan kerja di Jawa Timur, Kamis.
Senator asal Jawa Timur ini mengakui bahwa peluang ekspor Indonesia dalam kerja sama itu adalah ekspor buah-buahan khas tropikal.
"Indonesia bisa memanfaatkan buah-buahan tropikal khas Indonesia, seperti nanas, anggur, dan produk rempah-rempah. Pasar Chile sangat terbuka untuk komoditas tersebut, selain tentunya komoditas peternakan seperti daging sapi, unggas hingga babi," kata LaNyala yang juga mantan Ketua Kadin Jatim tersebut.
Namun, dia mengingatkan agar aktivitas ekspor-impor dilakukan secara transparan kepada petani penghasil buah-buahan tropikal.
"Transparansi dibutuhkan agar petani dapat mengembangkan jenis-jenis yang dibutuhkan serta meningkatkan kuantitas dan kualitas," katanya.
Selain itu, kata LaNyalla, petani harus merasakan harga yang pantas dari kegiatan ekspor buah tropikal.
"Jika petani tidak merasakan harga yang pantas, berarti upaya peningkatan kesejahteraan petani hanya akan menjadi mimpi semata," katanya.
Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) tengah menjajaki perpanjangan kerja sama perdagangan di sektor pertanian dengan Chile. Rencana perpanjangan kerja sama itu dilakukan untuk jangka waktu tiga tahun ke depan.
Sebagaimana diketahui, hubungan kerja sama Indonesia-Chile akan berakhir pada November 2021. Untuk itu, perpanjangan kerja sama kedua negara kembali dibahas untuk semakin memperkuat hubungan bilateral di sektor perdagangan, dalam hal ini ekspor-impor pertanian.
Chile merupakan pintu masuk ekspor pertanian Indonesia ke Amerika Latin. Potensi ekspor yang bisa dilakukan Indonesia dalam kerja sama tersebut antara lain ekspor buah-buahan khas tropikal seperti nanas, anggur dan produk rempah-rempah.
Sebagai catatan, neraca perdagangan Indonesia-Chile pada 2020 surplus sekitar 800 ribu dolar AS. Adapun total nilai perdagangan sektor pertanian kedua negara di tahun lalu mencapai 26,9 juta dolar AS.
Ekspor utama pertanian Indonesia ke Chile antara lain produk kelapa sawit senilai 5,3 juta dolar AS, obat hewan 3,4 juta dolar AS, serta nanas dengan nilai 1,9 juta dolar AS.
"Chile memiliki peranan yang cukup penting di Amerika Latin, dengan kerja sama yang saling menguntungkan, Indonesia dapat mengembangkan ekspor pertanian ke Brasil dan negara Amerika Latin lainnya melalui Chile," tutur LaNyalla, saat kunjungan kerja di Jawa Timur, Kamis.
Senator asal Jawa Timur ini mengakui bahwa peluang ekspor Indonesia dalam kerja sama itu adalah ekspor buah-buahan khas tropikal.
"Indonesia bisa memanfaatkan buah-buahan tropikal khas Indonesia, seperti nanas, anggur, dan produk rempah-rempah. Pasar Chile sangat terbuka untuk komoditas tersebut, selain tentunya komoditas peternakan seperti daging sapi, unggas hingga babi," kata LaNyala yang juga mantan Ketua Kadin Jatim tersebut.
Namun, dia mengingatkan agar aktivitas ekspor-impor dilakukan secara transparan kepada petani penghasil buah-buahan tropikal.
"Transparansi dibutuhkan agar petani dapat mengembangkan jenis-jenis yang dibutuhkan serta meningkatkan kuantitas dan kualitas," katanya.
Selain itu, kata LaNyalla, petani harus merasakan harga yang pantas dari kegiatan ekspor buah tropikal.
"Jika petani tidak merasakan harga yang pantas, berarti upaya peningkatan kesejahteraan petani hanya akan menjadi mimpi semata," katanya.
Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) tengah menjajaki perpanjangan kerja sama perdagangan di sektor pertanian dengan Chile. Rencana perpanjangan kerja sama itu dilakukan untuk jangka waktu tiga tahun ke depan.
Sebagaimana diketahui, hubungan kerja sama Indonesia-Chile akan berakhir pada November 2021. Untuk itu, perpanjangan kerja sama kedua negara kembali dibahas untuk semakin memperkuat hubungan bilateral di sektor perdagangan, dalam hal ini ekspor-impor pertanian.
Chile merupakan pintu masuk ekspor pertanian Indonesia ke Amerika Latin. Potensi ekspor yang bisa dilakukan Indonesia dalam kerja sama tersebut antara lain ekspor buah-buahan khas tropikal seperti nanas, anggur dan produk rempah-rempah.
Sebagai catatan, neraca perdagangan Indonesia-Chile pada 2020 surplus sekitar 800 ribu dolar AS. Adapun total nilai perdagangan sektor pertanian kedua negara di tahun lalu mencapai 26,9 juta dolar AS.
Ekspor utama pertanian Indonesia ke Chile antara lain produk kelapa sawit senilai 5,3 juta dolar AS, obat hewan 3,4 juta dolar AS, serta nanas dengan nilai 1,9 juta dolar AS.
Pewarta : A Malik Ibrahim
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Biak Numfor validasi kepesertaan jaminan sosial tenaga kerja bagi OAP
19 December 2025 3:59 WIB
Pemprov-Kejati menjalin kerja sama penerapan hukum rehabilitatif di Provinsi Papua
13 December 2025 6:18 WIB
Disnakertrans Kabupaten Jayapura dorong kemandirian kelompok kerja perahu fiber
09 December 2025 19:01 WIB
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
Diskop Papua Pegunungan sebut Kopdes Merah Putih bawa manfaat besar bagi OAP
25 January 2026 8:06 WIB