Timika (Antara Papua) - Jajaran Puskesmas Timika di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, memperketat pemeriksaan atau tes HIV pada ibu-ibu hamil.
Kepala Puskesmas Timika Maria Yosinta Rahangiar di Timika, Senin mengatakan sepanjang Februari-Maret 2015, ditemukan sekitar lebih dari lima orang ibu hamil yang positif terinfeksi HIV.
"Bulan Februari kami temukan lima kasus ibu hamil dengan HIV. Sedangkan bulan Maret satu kasus. Mungkin bulan-bulan sebelumnya tidak terdeteksi secara baik, namun sekarang dengan adanya program pemerintah yang mewajibkan ibu hamil yang berkunjung ke layanan KIA harus pemeriksaan darah maka ditemukan kasus-kasus seperti itu," katanya.
Menyikapi temuan tersebut, Puskesmas Timika menginstruksikan kepada bidan-bidan yang melakukan pemeriksaan ibu hamil agar terus memantau perkembangan setiap ibu hamil yang positif HIV.
"Begitu dapat kasus, saya minta bidan-bidan untuk ikut ibu tersebut ke rumahnya agar kita tahu alamat jelas yang bersangkutan sehingga bisa terus dipantau perkembangan kehamilannya sampai melahirkan," jelas Maria.
Sejumlah ibu hamil yang positif HIV menghendaki agar diberikan konseling terpisah dari ibu-ibu hamil lainnya agar identitas mereka tetap dirahasiakan.
"Ke depan kita akan siapkan ruangan tersendiri di KIA untuk mendapatkan konseling. Jadi, mereka tidak gabung lagi dengan ibu-ibu yang lain. Nanti petugas konselor dari VCT yang datang ke KIA untuk memberikan konsultasi sekaligus memberikan obat ARV (antiretroviral)," ujarnya.
Sesuai data KPA Mimika, hingga September 2014 angka komulatif kasus HIV-AIDS di wilayah itu mencapai 4.072 kasus. Pertumbuhan kasus HIV-AIDS di Mimika sangat cepat dalam kurun waktu 18 tahun terakhir sejak kasus tersebut ditemukan pertama kali pada 1996 pada seorang wanita pekerja seks di Lokalisasi Kilometer 10, Kampung Kadun Jaya, Distrik Mimika Timur.
Sekretaris KPA Mimika Reynold Ubra mengatakan upaya penanggulangan masalah HIV-AIDS di Mimika semakin menunjukkan arah yang lebih baik. Salah satu tolok ukurnya yaitu standar pelayanan minimal HIV pada penduduk yang saat ini sekitar 2 persen, padahal pada 2010 mencapai 20 persen.
Kemudian besaran prevelensi pada populasi kunci WPS turun dari 20 persen pada 2010 dan saat ini tinggal 3 persen dan prevelensi kasus HIV pada ibu hamil turun dari 3 persen pada 2010 menjadi 1 persen pada Oktober 2014.
Menurut Reynold, terbitnya Perda Nomor 11 tahun 2007 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV-AIDS di Mimika juga memberi efek yang sangat besar terhadap menurunnya jumlah temuan kasus baru HIV terutama pada kelompok populasi kunci.
Dari hasil survei yang dilakukan dalam enam bulan terakhir, tidak ditemukan kasus civilis, GO dan kasus-kasus infeksi menular seksual (IMS) lainnya pada kelompok tersebut. Demikianpun dengan kampanye pemakaian kondom meningkat secara signifikan pada kelompok berisiko di lokalisasi yaitu dari sekitar 55 persen pada 2010 menjadi 95 persen pada Oktober 2014.
KPA Mimika juga melakukan survei dan VCT pada WPS yang berprofesi sebagai tukang pijat dan pramuria bar pada awal September 2014 dimana tidak ditemukan orang yang terinfeksi kasus HIV.
Dari target sebanyak 25 ribu orang yang melakukan VCT, hingga Oktober 2014 sudah tercatat lebih dari 31 ribu warga Timika yang mengikuti program VCT dengan temuan kasus HIV hanya sekitar 1 persen.
"Ini indikasi bahwa kita harus kuat dalam memberikan dukungan kepada orang-orang yang terinfeksi terutama pada stadium AIDS supaya bisa mengonsumsi obat secara teratur dan menciptakan kondisi lingkungan yang nyaman," ujarnya.
"Kita harus lebih gencar lagi dalam kegiatan promosi pemakaian kondom jika melakukan hubungan seks dengan kelompok berisiko, bagaimana setia pada pasangan. Ini terus kita kampanyekan karena jalur penularan HIV masih sama yaitu melalui hubungan seksual," kata Reynold. (*)

