Logo Header Antaranews Papua

Pemkab Jayawijaya dorong pembudidayaan ubi jalar yang mulai langka

Rabu, 31 Januari 2018 16:15 WIB
Image Print
Perkebunan tradisional milik warga di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Kebun itu juga ditanami ubi jalar namun tidak banyak. (Foto: Antaranews Papua/Marius Frisson Yewun)
Kita coba melestarikan beberapa ubi jalar yang mulai langka. Ada jenis-jenis tertentu, misalnya Helaleke

Wamena (Antaranews Papua) - Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, mendorong pembudidayaan ubi jalar (Ipomoea batatas L) yang mulai jarang terlihat di kebun petani setempat, karena masih menjadi makanan pokok penduduk di wilayah dataran tinggi Papua.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Jayawijaya Hendri Tetelepta di Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Rabu, mengatakan dulunya ubi jalar yang ditanam petani terdiri dari tiga varietas menurut versi masyarakat setempat yaitu Helaleke, Tamue, dan Hoboak.

Namun, kini mulai jarang terlihat di kebun petani atau di pasaran, sehingga pemerintah setempat tengah berupaya mendorong pembudidayaannya.

"Kita coba melestarikan beberapa ubi jalar yang mulai langka. Ada jenis-jenis tertentu, misalnya Helaleke," katanya.

Hendri menyebut luas lahan yang dibuka untuk budi daya ubi jalar tersebut sekitar 100 hektare dan lokasinya tersebar di beberapa distrik.

"Jadi kita sediakan bibit, lalu kami berikan kepada masyarakat untuk mereka yang tanam langsung," katanya.

Pemerintah Jayawijaya terus melakukan pendampingan kepada masyarakat agar pengembangan pangan lokal tidak hilang tergilas program pangan nasional seperti jagung, padi dan kedelai.

"Kita punya pangan lokal seperti ubi jalar ini hampir lepas (tidak masuk) dari program nasional dan provinsi Papua, kita hanya berharap lewat APBD lewat dana Otsus," katanya.

Berdasarkan keputusan Kementerian Pertanian Nomor 680, Kabupaten Jayawijaya hanya mengembangkan tiga komoditas yaitu kopi, cabai dan bawang merah.

Walau Jayawijaya tidak masuk program nasional yaitu memproduksi sawah, pemerintah setempat mendorong petani untuk memanfaatkan lahan potensial yang ada untuk pengembangan padi, untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat secara lokal.

"Terkait pembinaan kepada petani padi, itu rutin dilakukan oleh seksi tanaman pangan dan horti, tetapi yang untuk program mengirim petani ke luar Jayawijaya itu kami masih terbatas," katanya. (*)



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026