Dewan adat kukuhkan Nerius Katagame sebagai Direktur Lemasa
Selasa, 22 November 2016 19:03 WIB
Direktur Lemasa, Nerius Katagame. (Foto: Antara Papua/Jeremias Rahadat)
Timika (Antara Papua) - Dewan Adat Suku Amungme melantik dan mengukuhkan Nerius Katagame sebagai Direktur Lembaga Musyawarah Suku Amungme (LEMASA) di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, untuk masa bakti 2016-2019.
Pelantikan dan pengukuhan Nerius Katagame sebagai Direktur LEMASA berlangsung dalam sidang istimewa LEMASA bertempat di Gedung Tongkonan Timika dipimpin oleh Ketua Dewan Adat Suku Amungme Donatus Kelanangame, Selasa.
Donatus mengatakan dewan adat Suku Amungme melantik dan mengukuhkan Nerius Katagame untuk melanjutkan kepemimpinan organisasi LEMASA setelah kepengurusan sebelumnya telah dinyatakan demisioner.
Organisasi LEMASA, katanya, dibentuk oleh tokoh Amungme Thom Beanal sekitar 20 tahun silam dengan visi dan misi utama untuk melindungi dan mengurus masyarakat hukum adat Amungme agar tetap eksis dan dihargai secara layak dan manusiawi.
"Ada empat tugas utama LEMASA yaitu mengurus dan menjaga silsilah keturunan Suku Amungme, mengurus dan menjaga bahasa Amungme, mengurus dan melestarikan seni budaya Suku Amungme serta menjaga hak-hak komunal masyarakat adat Suku Amungme yang hidup di lereng-lereng gunung dan lembah-lembah sekitar gunung salju abadi (Puncak Cartenz)," jelas Donatus.
Dalam beberapa tahun terakhir, katanya, kepengurusan LEMASA selalu berganti sehingga masyarakat adat Suku Amungme mulai kehilangan kepercayaan kepada wadah atau organisasi itu.
Donatus berpesan agar PT Freeport Indonesia, pemerintah dan lembaga keagamaan di Mimika bergandengan tangan dengan lembaga adat Suku Amungme dan Kamoro dalam membangun masyarakat setempat.
"Kepada PT Freeport kami berpesan bahwa masyarakat adat Suku Amungme sudah ada sebelum Freeport ada. Kami akan selalu ada, walaupun nantinya Freeport pergi meninggalkan kami pascatambang," ujar Donatus.
Kepada pemerintah, Donatus berpesan agar memberi perhatian serius pada upaya mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat asli Papua terutama Suku Amungme dan Kamoro di Mimika.
"Belajarlah dari para misionaris. Mereka datang bukan dengan membawa alat tajam dan senjata, tapi datang dengan hati mau melayani masyarakat. Mengapa sekarang sering terjadi kontak senjata antara aparat dengan masyarakat. Itu terjadi karena tidak ada pendekatan yang baik. Hendaknya pemerintah menjadi payung yang besar untuk melindungi masyarakat adat," pinta Donatus.
Sedangkan bagi lembaga-lembaga keagamaan di Mimika, Donatus berpesan agar mereka menjadi penyejuk bagi jiwa-jiwa yang haus dan lapar atas berkat Tuhan.
Dengan dilantik serta dikukuhkannya Nerius Katagame menjadi Direktur LEMASA, Donatus berharap dualisme kepemimpinan LEMASA dan Yayasan LEMASA yang terjadi selama ini tidak terjadi lagi.
"Kepengurusan gabungan antara LEMASA dan Yayasan LEMASA sudah dinyatakan berakhir atau demisioner. Dua lembaga itu satu sama lain terpisah. LEMASA milik seluruh masyarakat Suku Amungme. Sedangkan Yayasan LEMASA merupakan organ fungsional milik pribadi atau perorangan," jelas Donatus.
Asisten III Setda Mimika Lopianus Faukubun menyambut baik mengapresiasi pelaksanaan sidang istimewah LEMASA untuk mengukuhkan kepengurusan baru periode 2016-2019 sehingga organisasi milik masyarakat Suku Amungme itu bisa lebih berkontribusi dalam pembangunan di Mimika. (*)
Pelantikan dan pengukuhan Nerius Katagame sebagai Direktur LEMASA berlangsung dalam sidang istimewa LEMASA bertempat di Gedung Tongkonan Timika dipimpin oleh Ketua Dewan Adat Suku Amungme Donatus Kelanangame, Selasa.
Donatus mengatakan dewan adat Suku Amungme melantik dan mengukuhkan Nerius Katagame untuk melanjutkan kepemimpinan organisasi LEMASA setelah kepengurusan sebelumnya telah dinyatakan demisioner.
Organisasi LEMASA, katanya, dibentuk oleh tokoh Amungme Thom Beanal sekitar 20 tahun silam dengan visi dan misi utama untuk melindungi dan mengurus masyarakat hukum adat Amungme agar tetap eksis dan dihargai secara layak dan manusiawi.
"Ada empat tugas utama LEMASA yaitu mengurus dan menjaga silsilah keturunan Suku Amungme, mengurus dan menjaga bahasa Amungme, mengurus dan melestarikan seni budaya Suku Amungme serta menjaga hak-hak komunal masyarakat adat Suku Amungme yang hidup di lereng-lereng gunung dan lembah-lembah sekitar gunung salju abadi (Puncak Cartenz)," jelas Donatus.
Dalam beberapa tahun terakhir, katanya, kepengurusan LEMASA selalu berganti sehingga masyarakat adat Suku Amungme mulai kehilangan kepercayaan kepada wadah atau organisasi itu.
Donatus berpesan agar PT Freeport Indonesia, pemerintah dan lembaga keagamaan di Mimika bergandengan tangan dengan lembaga adat Suku Amungme dan Kamoro dalam membangun masyarakat setempat.
"Kepada PT Freeport kami berpesan bahwa masyarakat adat Suku Amungme sudah ada sebelum Freeport ada. Kami akan selalu ada, walaupun nantinya Freeport pergi meninggalkan kami pascatambang," ujar Donatus.
Kepada pemerintah, Donatus berpesan agar memberi perhatian serius pada upaya mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat asli Papua terutama Suku Amungme dan Kamoro di Mimika.
"Belajarlah dari para misionaris. Mereka datang bukan dengan membawa alat tajam dan senjata, tapi datang dengan hati mau melayani masyarakat. Mengapa sekarang sering terjadi kontak senjata antara aparat dengan masyarakat. Itu terjadi karena tidak ada pendekatan yang baik. Hendaknya pemerintah menjadi payung yang besar untuk melindungi masyarakat adat," pinta Donatus.
Sedangkan bagi lembaga-lembaga keagamaan di Mimika, Donatus berpesan agar mereka menjadi penyejuk bagi jiwa-jiwa yang haus dan lapar atas berkat Tuhan.
Dengan dilantik serta dikukuhkannya Nerius Katagame menjadi Direktur LEMASA, Donatus berharap dualisme kepemimpinan LEMASA dan Yayasan LEMASA yang terjadi selama ini tidak terjadi lagi.
"Kepengurusan gabungan antara LEMASA dan Yayasan LEMASA sudah dinyatakan berakhir atau demisioner. Dua lembaga itu satu sama lain terpisah. LEMASA milik seluruh masyarakat Suku Amungme. Sedangkan Yayasan LEMASA merupakan organ fungsional milik pribadi atau perorangan," jelas Donatus.
Asisten III Setda Mimika Lopianus Faukubun menyambut baik mengapresiasi pelaksanaan sidang istimewah LEMASA untuk mengukuhkan kepengurusan baru periode 2016-2019 sehingga organisasi milik masyarakat Suku Amungme itu bisa lebih berkontribusi dalam pembangunan di Mimika. (*)
Pewarta : Pewarta: Evarianus Supar
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Papua sebut tokoh adat jadi jembatan aspirasi pemerintah dan rakyat
15 February 2026 10:48 WIB
Ketua Adat Papua: Hari Raya Natal momentum untuk memperkuat persatuan masyarakat
11 December 2025 17:56 WIB
MRP Papeg: Seleksi anggota DPR jalur adat harus melalui lembaga kultur orang asli Papua
05 December 2025 16:42 WIB
Bupati Jayapura tegaskan penguatan adat pilar stabilitas politik di kampung
29 November 2025 16:29 WIB
Pemkot sebut lahan 16 hektare masyarakat adat Skouw Yambe Jayapura berstatus hukum
20 November 2025 3:25 WIB
Kementerian ATR/BPN mendorong penguatan kelembagaan adat hak ulayat di Papua
19 November 2025 21:34 WIB