Ketua KPK Firli sarankan titik rawan korupsi dijadikan bahan kampanye cakada
Selasa, 10 November 2020 15:44 WIB
Tangkapan layar - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri saat Webinar Nasional Pilkada Beintegritas 2020 yang disiarkan melalui YouTube KPK, Selasa (10-11-2020). ANTARA/Tangkapan layar YouTube KPK RI/pri.
Jakarta (ANTARA) - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri menyarankan kepada calon kepala daerah (cakada) agar titik rawan korupsi di daerahnya bisa dijadikan bahan dalam kampanye.
"Terkait dengan calon kepala daerah sekarang, bapak memetakan daerah mana daerah rawan korupsi di daerah bapak, bapak boleh jadikan bahan kampanye," kata Firli saat webinar Pembekalan Pilkada Berintegritas 2020 yang disiarkan akun YouTube Kanal KPK, Selasa.
Pembekalan itu diikuti oleh calon kepala daerah dan penyelenggara pemilu dari Provinsi Kepulauan Riau, Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Timur.
"Bahan kampanye untuk menghentikan korupsi itu menggunakan pendidikan masyarakat maupun dengan cara perbaikan sistem karena korupsi itu juga ada disebabkan karena sistem," ungkap Firli.
Dalam kesempatan itu, dia juga menjelaskan tiga alasan pentingnya pilkada yang berintegritas. Pertama, luasnya kewenangan kepala daerah, yakni otoritas mengurus pemerintahan dan mengelola keuangan daerah walaupun disokong dan disetujui oleh DPRD.
"Terkait ini ada deal-deal kesepakatan kongkalikong istilah 'ketok palu'. Kalau ada DPRD yang pengesahan APBD-nya harus menggunakan uang 'ketok palu' lapor dengan Mendagri lapor dengan saya. Pasti diambil alih oleh Mendagri kalau pembahasan RAPBD itu terhambat oleh DPRD," tuturnya.
Firli pun mencontohkan kasus suap "ketok palu" pengesahan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Provinsi Jambi Tahun Anggaran 2017 dan 2018.
Dalam kasus itu, KPK total telah menetapkan tersangka sebanyak 18 orang. Dari jumlah itu, 12 di antaranya telah diproses hingga persidangan. Para pihak yang diproses tersebut terdiri atas gubernur, pimpinan DPRD, pimpinan fraksi DPRD, dan pihak swasta.
"Lebih lucu lagi ada KPK datang di suatu daerah kami sampaikan seperti itu kebetulan lagi bahas tentang RAPBD. Tidak ada kesepakatan antara gubernur dan DPRD. Kami datang intervensi, 'ketok palu' gratis saat itu," ucap Firli.
Namun, kata dia, saat KPK pulang, anggota DPRD pun menanyakan kepada gubernurnya soal kesepakatan "uang ketok palu" tersebut.
"Begitu kami pulang, anggota DPRD tanya dengan gubernurnya mana kesepakatan 'uang ketok palu', palunya sudah saya ketok APBD-nya sudah disetujui. Kata gubernurnya apa, baru kemarin KPK datang ke sini, apa kata DPRD itu 'kan kemarin, sekarang sudah balik dia', deal bayar-bayaran. Akhirnya, satu gubernur, satu sekda, lima kadis, 11 anggota DPRD kena semua," kata Firli.
Kedua, alasan pentingnya pilkada yang berintegritas karena banyak kepala daerah yang tersangkut korupsi.
"Kedua kenapa perlu integritas? Karena banyak kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi. Saya tentu dengan Pak Mendagri, KPU, Bawaslu sepakat kami dari awal mengingatkan calon kepala daerah supaya tidak terlibat kasus korupsi. Datanya mengerikan 122 bupati/wali kota, 21 gubernur yang ditangani KPK," ucapnya.
Terakhir alasan dibutuhkan pilkada yang berintegritas, politik uang pada pilkada, yakni pada pendanaan pencalonan/kampanye hingga menjabat kepala daerah, melibatkan peserta, penyelenggara/pengawas, pemilih, partai politik, hingga pengusaha/penyandang dana.
"Terkait dengan calon kepala daerah sekarang, bapak memetakan daerah mana daerah rawan korupsi di daerah bapak, bapak boleh jadikan bahan kampanye," kata Firli saat webinar Pembekalan Pilkada Berintegritas 2020 yang disiarkan akun YouTube Kanal KPK, Selasa.
Pembekalan itu diikuti oleh calon kepala daerah dan penyelenggara pemilu dari Provinsi Kepulauan Riau, Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Timur.
"Bahan kampanye untuk menghentikan korupsi itu menggunakan pendidikan masyarakat maupun dengan cara perbaikan sistem karena korupsi itu juga ada disebabkan karena sistem," ungkap Firli.
Dalam kesempatan itu, dia juga menjelaskan tiga alasan pentingnya pilkada yang berintegritas. Pertama, luasnya kewenangan kepala daerah, yakni otoritas mengurus pemerintahan dan mengelola keuangan daerah walaupun disokong dan disetujui oleh DPRD.
"Terkait ini ada deal-deal kesepakatan kongkalikong istilah 'ketok palu'. Kalau ada DPRD yang pengesahan APBD-nya harus menggunakan uang 'ketok palu' lapor dengan Mendagri lapor dengan saya. Pasti diambil alih oleh Mendagri kalau pembahasan RAPBD itu terhambat oleh DPRD," tuturnya.
Firli pun mencontohkan kasus suap "ketok palu" pengesahan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Provinsi Jambi Tahun Anggaran 2017 dan 2018.
Dalam kasus itu, KPK total telah menetapkan tersangka sebanyak 18 orang. Dari jumlah itu, 12 di antaranya telah diproses hingga persidangan. Para pihak yang diproses tersebut terdiri atas gubernur, pimpinan DPRD, pimpinan fraksi DPRD, dan pihak swasta.
"Lebih lucu lagi ada KPK datang di suatu daerah kami sampaikan seperti itu kebetulan lagi bahas tentang RAPBD. Tidak ada kesepakatan antara gubernur dan DPRD. Kami datang intervensi, 'ketok palu' gratis saat itu," ucap Firli.
Namun, kata dia, saat KPK pulang, anggota DPRD pun menanyakan kepada gubernurnya soal kesepakatan "uang ketok palu" tersebut.
"Begitu kami pulang, anggota DPRD tanya dengan gubernurnya mana kesepakatan 'uang ketok palu', palunya sudah saya ketok APBD-nya sudah disetujui. Kata gubernurnya apa, baru kemarin KPK datang ke sini, apa kata DPRD itu 'kan kemarin, sekarang sudah balik dia', deal bayar-bayaran. Akhirnya, satu gubernur, satu sekda, lima kadis, 11 anggota DPRD kena semua," kata Firli.
Kedua, alasan pentingnya pilkada yang berintegritas karena banyak kepala daerah yang tersangkut korupsi.
"Kedua kenapa perlu integritas? Karena banyak kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi. Saya tentu dengan Pak Mendagri, KPU, Bawaslu sepakat kami dari awal mengingatkan calon kepala daerah supaya tidak terlibat kasus korupsi. Datanya mengerikan 122 bupati/wali kota, 21 gubernur yang ditangani KPK," ucapnya.
Terakhir alasan dibutuhkan pilkada yang berintegritas, politik uang pada pilkada, yakni pada pendanaan pencalonan/kampanye hingga menjabat kepala daerah, melibatkan peserta, penyelenggara/pengawas, pemilih, partai politik, hingga pengusaha/penyandang dana.
Pewarta : Benardy Ferdiansyah
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ketua KPK Firli: Gubernur Papua Lukas Enembe segera penuhi panggilan KPK supaya terselesaikan
11 October 2022 18:50 WIB, 2022
Ketua KPK Firli sebut Nahdlatul Ulama merupakan garda pemberantasan korupsi
31 January 2022 17:29 WIB, 2022
Purnawirawan TNI AD kritisi usulan bintang empat Ketua KPK Firli Bahuri
25 November 2021 16:23 WIB, 2021
MAKI uji materi UU HAM terkait Ketua KPK Firli mangkir panggilan Komnas HAM
10 June 2021 10:52 WIB, 2021
Terpopuler - Hukum
Lihat Juga
Polisi tangkap dua pengedar ganja di Abepura beserta bukti 14 paket siap edar
15 April 2026 7:04 WIB