Logo Header Antaranews Papua

Unicef gandeng pecinta alam laksanakan program STBM

Jumat, 4 September 2015 18:21 WIB
Image Print
Ilustrasi kegiatan Unicef (Foto: Istimewa)
"Unicef nenggadeng kita melalui kerja sama untuk mengerjakan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)," kata ketua KPA Hirosi, Marshal Suebu.

Sentani (Antara Papua) - Lembaga PBB Urusan Anak-anak, United Nations Children`s Fund (Unicef) menggandeng klub Pecinta Alam Hirosi di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, untuk melaksanakan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

"Unicef menggandeng kita melalui kerja sama untuk mengerjakan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)," kata ketua KPA Hirosi, Marshal Suebu, di Sentani, Jumat.

Marshal menjelaskan, empat pilar yang dijalankan dalam program STBM itu, yakni stop buang air besar sembarangan, cuci tangan sebelum makan, mengola sampah/mendaur ulang sampah, dan mengolah sampah secara mandiri.

"Dalam pilar daur ulang sampah ini masyarakat harus mandiri mengolah sampah, jadi tidak jadi sampah tidak lagi menjadi beban orang, ini pilar-pilar yang kita jalankan dalam kerja sama STBM ini dengan Unicef," ujarnya.

Menurut dia, sebenarnya program itu merupakan salah satu program yang diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kemudian Unicef juga mengambil peran itu untuk menyukseskan program tersebut.

"Tapi Unicef itu adalah salah satu lembaga pendonor sehingga harus menggandeng LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) lokal dan kemudian mereka menggandeng KPA Hirosi untuk bekerja secara bersama-sama," ujarnya.

Dia mengatakan, tahun ini merupakan tahun kedua kerja sama yang dijalani Unicef dan tahun ini hirosi mencoba mendatangi dua Distrik di Kabupaten Jayapura dengan 14 kampung.

KPA Hirosi bertugas melakukan sosialisasi hingga mengajak masyarakat untuk membangun WC sehingga tidak terbiasa membuang hajat secara sembarangan disungai, didanau bahkan disembarangan tempat.

"Kita berupaya mendorong kemandirian mereka (masyarakat.red) bisa membangun MCK dengan baik dengan tujuan bermanfaat untuk mereka sendiri," ujarnya.

Salah satu Distrik yang didatangi adalah Distrik Sentani timur dengan jumlah kampung sebanyak tujuh kampung, dan salah satu pilar yang akan dikerjakan di Distrik itu adalah tidak buang sembarangan.

Kemudian Distrik Demta dengan jumlah kampung sebanyak tujuh kampung dengan demikian jumlah total sebanyak 14 kampung.

"Ya kita berharap ada jamban di tujuh kampung yang ada distrik tersebut, ada jamban yang representatif dan bisa digunakan oleh masyarakat karena sampai saat ini masyarakat masih buang air besar sembarangan," katanya.

Marshal berharap, dengan adanya program itu, semua distrik di Kabupaten Jayapura stop buang besar dengan sembarangan.

Dia menambahkan, tahun ini juga pihaknya akan menjajaki Distrik Gresi Selatan di Genyem, Kabupaten Jayapura untuk melakukan sosialisasi dampak perilaku buang air besar sembarangan (PABS) dan mengajak masyarakat setempat untuk membangun jamban.

United Nations Children`s Fund (Unicef) atau Badan PBB untuk anak-anak didirikan oleh Majelis Umum PBB pada 11 Desember 1946. Bermarkas besar di Kota New York, Amerika.

Unicef membantu Indonesia pertama kali pada 1948. Saat itu terjadi situasi darurat yang memerlukan penanganan cepat akibat kekeringan hebat di Lombok. Kerjasama resmi antara UNICEF dan pemerintah Indonesia dijalin pertama kali pada 1950.

Sejak awal masa kemerdekaan, Unicef tetap dianggap mitra Indonesia yang berkomitmen untuk memperbaiki hidup anak-anak dan wanita di seluruh nusantara. Prioritas awal Unicef adalah memberikan pelayanan dan persediaan yang sangat diperlukan untuk memperbaiki kesehatan anak Indonesia dan keluarganya. (*)



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026