
Dinkes Mimika rutin periksa kelayakan depot air minum

156 depot tidak bisa kami jangkau dalam tiga bulan sehingga kami lakukan pemeriksaan per tiga bulan. Biasanya pemeriksanaan dilakukan selama satu pekan dan setelah itu hasilnya disampaikan kepada pemilik depot. Kalau hasilnya bagus maka petugas kami
Penanggung jawab laboratorium Dinas Kesehatan Mimika, Hamisa Tiflen di Timika, Jumat, mengatakan sampel air dari masing-masing depot diambil langsung oleh petugas laboratorium kemudian diuji terkait dengan kandungan bakteri Eschericia coli dan Coliform.
Menurut Hamisa, sesuai aturan pemeriksaan kelayakan air minum dilakukan setiap bulan.
Namun, karena keterbatasan tenaga laboratorium yang hanya berjumlah empat orang maka pihaknya tidak mampu untuk menjangkau semua depot di wilayah itu dalam jangka waktu satu bulan.
"156 depot tidak bisa kami jangkau dalam tiga bulan sehingga kami lakukan pemeriksaan per tiga bulan. Biasanya pemeriksanaan dilakukan selama satu pekan dan setelah itu hasilnya disampaikan kepada pemilik depot. Kalau hasilnya bagus maka petugas kami langsung menempel hasil uji laboratorium itu di depot masing-masing," ujar Hamisa.
"Tetapi jika hasil laboratorium menunjukan adanya dua bakteri tersebut maka kami lakukan edukasi dulu seperti meminta untuk mengganti filter atau mencuci alat-alat mereka termasuk ultra violet kita coba lagi," sambungnya.
Hamisa mengakui bahwa terkadang pihaknya menemukan air depot yang mengandung dua bakteri tersebut.
Hal itu dikatenakan sistem filterisasi menggunakan ultra violet tidak digunakan oleh pemilik depot.
Untuk uji laboratorium terkait kandungan kimia pada sampel air di masing-masing depot, menurut Hamisa, biasanya di kirim ke Jayapura untuk dilakukan uji di laboratorium BPPOM.
Pemeriksaan kandungan kimia pada air isi ulang juga biasanya dilakukan depot di wilayah itu pada saat pertama pembukaan depot air.
Namun, selanjutnya tidak lagi dilakukan pemeriksaan. Padahal pengujian kandungan kimia dilakukan setiap enam bulan.
"Depot di Timika rata-rata melakukan tes kandungan kimia pada saat awal pembukaan sedangkan selanjutnya tidak dilakukan pemeriksanaan. Biaya yang dibebankan bisanya Rp1.500.000, sementara untuk uji mikrobiologi dikanan biaya Rp150.000," kata Hamisa. (*)
Pewarta : Jeremias Rahadat
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
