Program Indonesian Immersion yang menawarkan paparan bahasa selama 24 jam dinilai mampu mempercepat penguasaan bahasa sekaligus pemahaman budaya secara lebih alami dibandingkan kelas konvensional.
Berbeda dari kursus bahasa pada umumnya, program immersion menempatkan peserta di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. Bahasa Indonesia tidak hanya dipelajari sebagai materi pelajaran, tetapi digunakan sebagai alat komunikasi utama sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat.
Salah satu keunggulan utama program immersion adalah intensitas paparan bahasa. Peserta tidak hanya belajar melalui sesi kelas bersama pengajar profesional, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan warga sekitar, aktivitas budaya, hingga kegiatan sederhana seperti berbelanja atau memesan makanan.
Dalam konteks ini, kesalahan berbahasa justru menjadi bagian penting dari proses belajar. Peserta dipaksa untuk berpikir, mendengar, dan merespons menggunakan Bahasa Indonesia dalam situasi nyata, bukan sekadar menjawab soal latihan.
Penggunaan bahasa dalam konteks alami jauh lebih efektif dibandingkan pembelajaran berbasis hafalan. Semakin sering seseorang menggunakan bahasa dalam konteks nyata, semakin cepat kompetensinya terbentuk.
Program immersion Bahasa Indonesia umumnya dirancang di lingkungan yang minim penggunaan bahasa Inggris. Peserta bahkan dianjurkan tinggal bersama masyarakat lokal atau di kawasan permukiman yang hampir sepenuhnya menggunakan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi ini menciptakan apa yang disebut linguistic pressure, yakni dorongan alami untuk menggunakan bahasa target karena tidak adanya alternatif lain.
Hal ini sulit ditemukan dalam kelas konvensional yang biasanya hanya berlangsung beberapa jam per minggu dan sering kali masih menggunakan bahasa pengantar lain.
“Lingkungan yang memaksa pembelajar untuk beradaptasi secara linguistik akan mempercepat proses internalisasi bahasa, terutama pada aspek keberanian berbicara dan pemahaman makna," ujar pakar pendidikan bahasa dari Monash University, Dr. John H. Schumann.
Hal inilah yang menjadikan program immersion dari jembatanbahasa.com, dengan pendekatan komunikasi daripada tata bahasa, hadir sebagai sesuatu berbeda.
Keunggulan dari program immersion adalah integrasi pembelajaran bahasa dengan budaya. Peserta tidak hanya mempelajari tata bahasa dan kosakata, tetapi juga memahami konteks sosial, kebiasaan, serta nilai-nilai yang melekat dalam penggunaan Bahasa Indonesia.
Melalui kegiatan seperti language tour, interaksi dengan seniman atau profesional lokal, hingga partisipasi dalam aktivitas masyarakat, peserta belajar bagaimana bahasa digunakan secara sopan, informal, atau situasional. Hal ini jarang didapatkan dalam kelas konvensional yang cenderung fokus pada aspek struktural bahasa.
Program immersion juga menawarkan fleksibilitas durasi, mulai dari satu minggu hingga beberapa bulan, dengan kurikulum yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan peserta. Pendekatan ini memungkinkan pembelajar pemula hingga tingkat lanjut untuk mendapatkan pengalaman belajar yang relevan dan terarah.
Model ini berbeda dengan kursus reguler yang biasanya menggunakan silabus seragam dan kurang adaptif terhadap kebutuhan individual peserta.
Program immersion Bahasa Indonesia menawarkan pendekatan pembelajaran yang lebih menyeluruh dibandingkan kelas konvensional.
Dengan paparan bahasa selama 24 jam, lingkungan non-Inggris, serta integrasi budaya dalam kehidupan sehari-hari, peserta tidak hanya belajar berbicara, tetapi juga berpikir dan hidup dalam Bahasa Indonesia.
Seperti ditegaskan para pakar bahasa, bahasa adalah kebiasaan yang tumbuh melalui penggunaan nyata. Dalam konteks itu, program immersion menjadi solusi efektif bagi siapa pun yang ingin menguasai Bahasa Indonesia secara cepat, alami, dan bermakna—bukan sekadar lulus ujian, tetapi benar-benar mampu berkomunikasi.
