Timika (Antara Papua) - Warga asal Suku Kei dan Tanimbar mendesak Gubernur Papua Lukas Enembe bersama wakilnya, Klemen Tinal datang ke Timika untuk menyelesaikan konflik horizontal antarawarga lintas etnis.
"Pak Lukas Enembe dan Klemen Tinal harus datang ke Timika karena masyarakat Dani dan Damal adalah masyarakat sukunya. Gubernur dan Wakil Gubernur harus hadir untuk mengumpulkan masyarakatnya. Kami masyarakat pendatang bukan orang haus darah," ujar Ny Rahayaan saat berorasi di halaman Kantor DPRD Mimika, Selasa.
Warga Kei dan Tanimbar menggelar aksi unjuk rasa damai di halaman Kantor DPRD Mimika dengan membawa jenazah almarhum Melvin Lalar dan Markus Naraha. Keduanya dibunuh oleh sekelompok orang yang belum diketahui saat hendak pergi mencari besi bekas di Mil 21 area PT Freeport Indonesia, Senin (18/8).
Ny Rahayaan mengatakan warga asal Maluku juga memiliki jasa besar dalam membangun Papua.
"Orang tua kami sejak tahun 1930-an datang ke Papua untuk membangun dan memajukan orang Papua. Kami datang bukan untuk membantai orang Papua. Mengapa kami orang pendatang selalu terus dibantai seperti binatang," tanya Ny Rahayaan yang lahir dan besar di Papua itu.
Menurut dia, saat Timika masih baru dibuka pada era 1980-an tidak ada orang Suku Dani dan Damal yang ada di Timika. Namun saat ini warga kedua suku itu kian merajalela di Timika. Mereka tidak saja terlibat konflik dengan warga non Papua, tetapi juga dengan masyarakat asli Mimika dari Suku Amungme dan Kamoro serta dua suku dari wilayah pegunungan lainnya yaitu Moni dan Mee (Paniai).
Warga Kei dan Tanimbar menyanggupi permintaan Pejabat Bupati Mimika, Ausilius You agar segera menguburkan jenazah kedua korban secara baik-baik.
"Kami orang Maluku tidak pernah jual kepala. Kami orang pendatang tidak punya adat dan budaya bayar kepala," ujar Ny Rahayaan.
Ketua Kerukunan Kei, Piet Rafra meminta Pejabat Bupati Mimika Ausilius You mengambil langkah-langkah cepat dan serius untuk mengatasi gejolak sosial yang terjadi di Timika dalam sepekan terakhir.
"Kalau dibiarkan, nanti esok ada lagi korban pembunuhan. Kami sengaja membawa jenazah kedua korban ini Kantor DPRD Mimika agar ada perhatian serius dari semua pihak untuk menyelesaikan masalah ini," kata Piet Rafra.
Ia meminta aparat Kepolisian dan TNI di wilayah itu agar bertindak tegas tanpa pandang bulu dalam menegakkan hukum.
"Jangan lagi ada pembunuhan-pembunuhan seperti ini. Kalau mau razia senjata tajam, semuanya harus dirazia. Jangan hanya pendatang yang dirazia, tetapi orang-orang gunung dibirkan," kritik Piet Rafra.
Ironisnya, tak satupun dari 25 anggota DPRD Mimika hadir di tengah massa. Ketua DPRD Mimika Trifena Tinal bersama seluruh anggotanya tidak diketahui keberadaannya. Padahal Trifena Tinal hadir membacakan teks Proklamasi saat upacara peringatan HUT ke 69 RI di Lapangan Timika Indah, Minggu (17/8) pagi.
Lantaran tak mendapati satupun anggota Dewan, warga melampiaskan kemarahan mereka dengan berencana menguburkan kedua jenazah di halaman Kantor DPRD Mimika.
Beberapa orang warga terlihat membawa skop dan linggis untuk menggali kuburan di halaman Kantor DPRD Mimika.
Namun aksi mereka dihentikan aparat kepolisian dan menjanjikan akan menghadirkan Pejabat Bupati Mimika Ausilius You untuk menjawab aspirasi warga.
Ausilius You tiba di Kantor DPRD Mimika sekitar pukul 12.40 WIT.
You meminta warga Kei dan Tanimbar segera menguburkan jenazah Melvin dan Markus.
"Kita semua berduka dengan peristiwa ini. Pasti kita tidak bisa menerima, tapi kita harus berdamai dan mempererat tali persaudaraan dan terus membina kebersamaan dalam suasana kekeluargaan untuk membangun tanah Mimika," ujar Ausilius You.
Ia mendukung desakan warga agar para pelaku kejahatan yang membunuh kedua korban agar segera ditangkap dan diproses dengan hukuman seberat-beratnya.
"Pak Polisi, tangkap dan proses para pelakunya. Aparat kepolisian harus tegakkan hukum positif," pinta You.
Sekitar pukul 14.00 WIT, kedua jenazah diantar kembali ke rumah duka di Gorong-gorong dan Jalan Elang Kelurahan Kwamki. Jenazah Melvin dan Markus direncanakan akan dimakamkan pada Rabu (20/8) di pekuburan umum Kampung Kamoro Jaya-SP1, Timika. (*)

