Jayapura (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di sembilan kabupaten/kota untuk terus perkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana.
Hal ini disampaikan Staf Ahli Gubernur Papua, Cyfrianus Mambay dalam Rapat Koordinasi Daerah BPBD se-Papua, bertempat Kota Jayapura, Papua Selasa.
"Seperti diketahui ancaman bencana di Papua sangat beragam oleh sebab itu kesiapsiagaan sangat perlu dilakukan. Apalagi letak geografis Indonesia berada pada tiga lempeng tektonik utama," katanya.
Dengan begitu, Indonesia termasuk Papua merupakan yang memiliki resiko bencana alam yang tinggi, sehingga penguatan seperti ini sangat penting dilakukan.
Dia menjelaskan, Papua tidak terlepas dari ancaman bencana mengingat letak geografis dan kondisi lingkungannya. Di sisi lain, degradasi lingkungan turut meningkatkan risiko banjir, longsor, dan kebakaran hutan.
“Semua tidak bisa menghentikan bencana, tapi risikonya bisa diminimalisir dengan cara-cara yang didapatkan melalui rakor tersebut," katanya.
Untuk itu, peserta rakor diminta aktif berdiskusi dan membahas kasus nyata yang ditemui saat berada lapangan agar penanganan lebih tepat sasaran.
"Sehingga perlu adanya kolaborasi lintas instansi mulai dari Dinas kehutanan, lingkungan hidup, tim SAR, dan BPBD harus saling terhubung dalam memberikan peringatan dini. Hal-hal kecil yang diabaikan bisa menimbulkan bencana besar. Itu yang harus dicegah,” ujarnya lagi.
Plt Kepala BPBD Papua, Wisnu, mengatakan, setiap wilayah di Papua memiliki potensi bencana yang berbeda. Potensi banjir tinggi berada di Kota Jayapura, Keerom, dan Sarmi, sementara daerah rawan gempa meliputi Nabire, Keerom, dan Pegunungan Bintang.
"Oleh sebab itu kesiapsiagaan yang dibangun saat ini harus sejalan dengan tema rakor, Papua Tangguh, Papua Hebat sehingga diharapkan menjadi pedoman BPBD di sembilan kabupaten dan kota," katanya.
Menurut Wisnu, dengan siap menghadapi bencana, maka dapat meminimalisir dampak yang terjadi.
"Melalui rakor ini menjadi momentum memperkuat koordinasi, membekali peserta dengan keterampilan, serta mempercepat respons saat bencana terjadi," ujarnya.

