AS mendesak Myanmar bebaskan wartawan yang ditangkap saat meliput demo
Kamis, 4 Maret 2021 16:59 WIB
Aksi protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, Selasa (2/3/2021). Gambar diambil dari balik jendela. (ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/rwa.)
Washington (ANTARA) - Amerika Serikat pada Rabu (3/3) mendesak otoritas militer di Myanmar agar membebaskan wartawan Associated Press (AP) dan lima anggota media lainnya yang ditangkap saat meliput demonstrasi menentang kudeta militer.
Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Ned Price mengaku dirinya "syok dan muak" dengan laporan dan tayangan penindakan keras terhadap demonstran. Pasukan keamanan Myanmar telah menewaskan sedikitnya 38 orang pada Rabu.
Thein Zaw, 32, wartawan Myanmar untuk kantor berita Associated Press, merupakan satu dari enam wartawan yang ditangkap selama meliput demonstrasi. Mereka dituduh melanggar hukum ketertiban umum, menurut pengacaranya.
"Kami sangat prihatin dengan meningkatnya serangan dan penangkapan wartawan," kata Price. "Kami mendesak militer agar segera membebaskan orang-orang ini dan menghentikan intimidasi serta pelecehan terhadap media dan melepaskan mereka yang ditahan secara tidak adil karena menjalankan tugasnya."
Price mengatakan Amerika Serikat, yang telah menjatuhi sanksi kepada para pemimpin kudeta dan sejumlah perusahaan militer, sedang mempertimbangkan langkah-langkah kebijakan lebih lanjut untuk meminta pertanggungjawaban militer Myanmar, sambil berupaya menggalang tindakan internasional.
"Kami menyeru semua negara untuk berbicara dengan satu suara mengecam kekerasan brutal militer Burma terhadap rakyatnya sendiri dan untuk mendesak pertanggungjawaban atas tindakan militer, yang telah menelan begitu banyak korban jiwa di Burma," kata Price, yang menyebut Myanmar dengan nama lain negara itu, Burma.
Sumber: Reuters
Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Ned Price mengaku dirinya "syok dan muak" dengan laporan dan tayangan penindakan keras terhadap demonstran. Pasukan keamanan Myanmar telah menewaskan sedikitnya 38 orang pada Rabu.
Thein Zaw, 32, wartawan Myanmar untuk kantor berita Associated Press, merupakan satu dari enam wartawan yang ditangkap selama meliput demonstrasi. Mereka dituduh melanggar hukum ketertiban umum, menurut pengacaranya.
"Kami sangat prihatin dengan meningkatnya serangan dan penangkapan wartawan," kata Price. "Kami mendesak militer agar segera membebaskan orang-orang ini dan menghentikan intimidasi serta pelecehan terhadap media dan melepaskan mereka yang ditahan secara tidak adil karena menjalankan tugasnya."
Price mengatakan Amerika Serikat, yang telah menjatuhi sanksi kepada para pemimpin kudeta dan sejumlah perusahaan militer, sedang mempertimbangkan langkah-langkah kebijakan lebih lanjut untuk meminta pertanggungjawaban militer Myanmar, sambil berupaya menggalang tindakan internasional.
"Kami menyeru semua negara untuk berbicara dengan satu suara mengecam kekerasan brutal militer Burma terhadap rakyatnya sendiri dan untuk mendesak pertanggungjawaban atas tindakan militer, yang telah menelan begitu banyak korban jiwa di Burma," kata Price, yang menyebut Myanmar dengan nama lain negara itu, Burma.
Sumber: Reuters
Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ditnarkoba Polda Papua musnahkan 959 gram ganja dan ratusan paket sabu-sabu
14 September 2024 17:20 WIB, 2024
Aparat TNI/Polri tangkap pemilik 35 paket ganja di Kampung Mosso Kota Jayapura
03 August 2024 17:27 WIB, 2024
Kapolda Papua: Penangkapan di Kenyam karena terindikasi mendukung KKB
19 September 2023 19:19 WIB, 2023
Polisi amankan 19 terduga provokator saat penangkapan Gubernur Lukas Enembe
11 January 2023 17:21 WIB, 2023
Menkopolhukam Mahfud MD: Penangkapan Gubernur Lukas Enembe murni penegakan hukum
11 January 2023 17:03 WIB, 2023
Aktivitas masyarakat di Kota Sentani sempat lumpuh pasca-penangkapan Gubernur Lukas
10 January 2023 15:15 WIB, 2023
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Kemenlu RI pastikan Indonesia berkontribusi lebih di kawasan Pasifik
14 October 2024 20:59 WIB, 2024
Dirut Akhmad Munir: ANTARA sejalan dengan OANA untuk pemberantasan hoaks
24 October 2023 12:20 WIB, 2023