
BI: teknologi pemalsuan rupiah semakin canggih

Pemalsuan uang kalau saya lihat kualitasnya semakin bagus, jadi sudah ada benang pengaman, kalau diterawang ada gambar pahlawan, sekali lagi itu memerlukan ketelitian.
Jayapura (Antara Papua) - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua Joko Supratikto mengungkapkan bahwa teknologi yang digunakan untuk memalsukan rupiah semakin canggih sehingga semua pihak harus lebih mewaspadai setiap peredaran uang yang diterima.
"Pemalsuan uang kalau saya lihat kualitasnya semakin bagus, jadi sudah ada benang pengaman, kalau diterawang ada gambar pahlawan, sekali lagi itu memerlukan ketelitian," katanya di Jayapura, Selasa (24/1).
"Ada juga yang menggunakan sistem mutilasi, jadi ini memang harus semakin teliti terhadap peredaran uang palsu," katanya.
Ia mengklaim pihaknya akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar informasi mengenai cara membedakan antara uang asli dan palsu bisa benar-benar dipahami dengan baik.
"Dengan teknik 3D (dilihat, diraba dan diterawang) yang paling gampang untuk mengetahui uang asli atau palsu," ujarnya.
Joko pun memandang kesadaran masyarakat untuk melaporkan kepada pihak berwenang bila mencurigai adanya uang palsu semakin baik, dan hal tersebut membuat jumlah temuan uang palsu semakin meningkat.
"Mungkin karena masyarakat semakin sadar, semakin banyak yang bisa kita temui. Kalau dulu mungkin mereka tidak mengetahui kalau itu uang palsu sehingga digunakan untuk transaksi," katanya.
Pada 5 Januari 2017, Joko sempat mengungkapkan bila pihaknya menemukan 100 lembar uang palsu selama 2016. Jumlah tersebut meningkat drastis dibanding tahun sebelumnya.
"Di 2016 ada tren peningkatan, yang kita temukan masuk ke BI ada 100 lembar, terutama pecahan Rp100.000 dan Rp50.000. Tahun lalu hanya 23 lembar, berarti ada peningkatan yang cukup banyak walau dari sisi jumlah masih sedikit dibanding daerah lain," ujarnya. (*)
Pewarta : Pewarta: Dhias Suwandi
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
