Jayapura (Antara Papua) - Aktivitas para pedagang di Pasar Youtefa, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Sabtu pagi telah kembali normal, setelah dua hari lalu diterjang banjir karena hujan dengan intensitas yang cukup tinggi.
Pantauan di lapangan, Sabtu pagi, para pedagang yang sebelumnya sempat menggelar jualannya di kiri-kanan bahu Jalan Baru tembus Skyline dan Tanah Hitam itu telah menempati lapaknya masing-masing.
Sari, pedagang sayur dan bumbu dapur mengungkapkan genangan air akibat banjir biasanya bisa bertahan hingga berhari-hari di sekitar kompleks pasar tradisional tersebut.
"Tapi, banjir kali ini airnya cepat surut. Ternyata setelah ditelusuri, Kamis pagi sebelum hujan deras, ada kerja bakti dari TNI dan sejumlah peajar Kota Jayapura. Mereka membuat lubang-lubang atau biopori di sekitar pasar," katanya.
Lubang biopori tersebut, kata Sari, diduga mempercepat perembesan air ke dalam tanah sehingga tidak ada genangan air sesudah banjir.
"Kami juga heran, kok airnya cepat terserap tanah. Eh, ternyata ada yang kerja bakti buat biopori. Dengan begini kami bisa berjualan lagi," katanya.
Senada itu, HJ Rama, rekan Sari, mengatakan banjir kali ini kerugian yang dialami olehnya tidak terlalu besar tidak seperti banjir-banjir sebelumnya.
"Kalau rugi barang mungkin tidak, tapi tidak adanya pembeli saat banjir itu memang benar. Tapi sejak kemarin kami sudah menata kembali dagangan yang akan dijual," katanya.
Banjir pada Kamis (18/9) lalu di pasar tradisional terbesar di Ibu Kota Provinsi Papua itu menggenangi hampir sebagian besar area tersebut.
Akibat banjir itu, para pedagang dan sejumlah angkutan kota dan pedesaan, serta angkutan antar kabupaten/kota mengungsi ditempat yang tinggi dekat kawasan itu.
Pantauan di lapangan terminal angkutan yang masuk dalam kawasan Pasar Youtefa hingga kini masih bercampur sisa lumpur, pasir dan sampah.
Dinas Kebersihan Kota Jayapura juga bergerak cepat untuk mengangkut lumpur dan sampah-sampah tersebut. (*)

