Jayapura (Antara Papua) - Siswa-siswi SMA Negeri 4 Jayapura, Papua memanfaatkan momentum pembagian rapor tengah semester untuk memamerkan hasil daur ulang sampah kepada orang tuanya di halaman sekolah tersebut.
"Semua hasil karya yang dipamerkan oleh para siswa-siswi itu sudah diajarkan selama ini dalam mata pelajaran bidang kewirausahaan di sekolah ini, karena ada pembagian raport stengah semester kepada siswa," kata Kepala SMAN 4 Jayapura, Laban Sembiring, di Jayapura, Sabtu.
Menurut Laban, ada kurikulum mata pelajaran kewirausahaan di sekolah yang dipimpinya, dimana didalamnya mengarahkan siswa untuk bisa mendaur ulang berbagai macam jenis sampah.
Dia menjelaskan, melalui momentum pembagian raport siswa-siswi itu, sebelum orang tua siswa-siswi masuk ke kelas, pihak sekolah menggiring para orang tua anak untuk melihat hasil karya daur ulang sampah anak-anaknya yang dipamerkan di stand.
"Kami berupaya untuk mendorong orang tua supaya jangan melihat sampah ini bikin kotor saja rumah kalau sampai dirumah untuk apa," katanya.
Lanjut dia, sebenarnya bukan itu maksud sekolah akan tetapi saat orang tua membeli hasil karya anaknya, itu menjadi motivasi tersendiri bagi anaknya.
Dari motivasi seperti itu, menurutnya, pihak sekolah merasa bisa menjadi motivasi tersendiri bagi sang anak untuk bisa mengembangkan talenta atau karyanya karena bisa dihargai dengan dibeli.
"Ada banyak skali stand yang kami buka disekitar halaman sekolah ini. Setiap kelas buka stand untuk memamerkan hasil karyanya," ujarnya.
Dia menuturkan, setelah penerimaan rapor, orang tua siswa dipersilahkan untuk melihat hasil karya anaknya di setiap stand yang dibuka oleh masing-masing kelas.
"Jadi mungkin produk hasil karya yang dibeli baik atau tidak hasil karyanya mungkin dibeli oleh orang tuanya, dengan begitu anaknya bisa berpikir bahwa oh ternyata hasil karya seperti ini bisa jadi uang," ujarnya.
"Walaupun kami belum bisa jual keluar tetapi kami berupaya manfaatkan momentum seperti ini untuk bisa menjual hasil daur ulang sampah para siswa dan siswi," ujarnya.
Laban mengatakan, ada berbagai macam hasil daur ulang sampah yang dipamerkan disetiap stand yang dibuka, di antaranya mendaur ulang kantong kresek warna merah hasil belanjaan siswa-siswi dipasar atau di mall atau kantong kresek yang dibuang kemana-mana menjadi boneka.
Kantong kresek itu digunting-gunting kemudian dibentuk menjadi boneka panda, dikasih mata dan kemudian telinga.
"Boneka panda dari kantong plastik itu digunting-gunting kasih halus seperti spon begitu kemudian dibuat bentuknya seperti boneka panda," ujarnya.
"Kalau kita pandang dari jarak dua meter saja kita kira itu produk dari kain wol tetapi kalau dekat ternyata itu plastik sampah yang dibuang dimana-mana dan dari belanjaan itu digunting kemudian dihancurkan dan dibentuk menjadi boneka," ujarnya lagi.
Hasil daur ulang sampah lainnya yang juga di pamerkan, tambah dia, adalah bunga yang bisa dibentuk dari sampah botol plastik air minum dan juga asbak dari bungkus rokok.
"Banyak kreasi-kreasi daur ulang sampah yang dipamerkan di masing-masing stand yang dibuka oleh setiap kelas, itu yang kami perbuat untuk membina jiwa wirausaha anak bahwa apapun sampah itu bisa kita produk menjadi nilai jual ," ujarnya. (*)

