"Tidak ada kesuksesan yang dicapai tanpa melalui suatu kerja keras" menjadi motto hidup seorang Mathius Elosak.
Mathius merupakan salah satu pelaku usaha budidaya ikan air tawar dengan pola keramba jaring apung binaan Biro Ekonomi Suku Dani pada Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK).
Ia telah menggeluti usahanya itu sejak awal tahun 2000-an.
Di sekitar rumahnya di kawasan bendungan Jalan Sosial, Kelurahan Kebon Sirih, Timika, Papua, Mathius membudidayakan ribuan ekor ikan air tawar berbagai jenis seperti ikan mas (karper), ikan nila dan ikan mujair.
Ribuan ekor ikan berbagai jenis itu dipelihara dan dibesarkan dalam 30-an petakan keramba.
Mathius yang menamatkan pendidikan SD hingga SLTA di Kota Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya itu mengaku merintis usahanya dari nol. Tanpa berbekal modal memadai, ia memberanikan diri menekuni usaha budidaya ikan keramba setelah terinspirasi dari siaran televisi.
"Setelah lulus SMA di Wamena, saya datang ke Timika untuk cari pekerjaan. Kebetulan lokasi tempat tinggal saya dekat dengan bendungan (bendungan air tawar di sisi utara Bandara Mozes Kilangin Timika). Saya kemudian memutuskan untuk membuat usaha keramba ikan," tuturnya.
Awalnya luas keramba ikan yang dibuat Mathius hanya berukuran sekitar 10x10 meter. Ia bekerja seorang diri membuat pagar keliling keramba dari campuran semen untuk memisahkannya dari air bendungan.
"Pagar keliling ini saya kerjakan sendiri saja. Saya tidak punya modal untuk ongkos tukang," ujarnya.
Setelah kolam keramba tersebut rampung, Mathius memasukan bibit ikan mujair ke dalam keramba miliknya untuk dibesarkan. Selain itu, ia juga mencari bibit ikan ke mana-mana, bahkan dengan memasukan permohonan ke instansi terkait di Pemkab Mimika dan Department Social & Local outreach Development PT Freeport Indonesia.
Bantuan modal
"Waktu itu, saya belum tahu kalau LPMAK ada program dana bergulir untuk kelompok usaha. Saya mendapat informasi dari teman-teman bahwa ada program seperti itu. Lalu, saya memasukan permohonan ke LPMAK melalui Biro Ekonomi Suku Dani untuk mendapatkan bantuan modal usaha," ujar Mathius.
Melihat kesungguhan Mathius untuk berusaha, LPMAK Biro Ekonomi Suku Dani akhirnya menyetujui pemberian bantuan modal usaha melalui sistem dana bergulir.
Tahap pertama pada tahun 2007, Mathius mendapatkan bantuan modal usaha sebesar Rp10 juta.
"Modal itu saya pakai untuk beli kayu untuk membuat petakan keramba, jaring dan bibit ikan Saya tidak pernah menggunakan uang yang diberikan oleh LPMAK untuk foya-foya, tapi saya pergunakan sesuai arahan yang mereka berikan," ujarnya.
Berbekal bantuan permodalan dari LPMAK melalui Biro Ekonomi Suku Dani itu, Mathius terus memperluas petakan keramba miliknya.
Ketekunan Mathius untuk menggeluti usaha budidaya ikan keramba membuahkan hasil. Dari profesi itu, kini dia sudah memiliki sebuah rumah beton permanen. Penghasilan dari jualan ikan yang diproduksi dari keramba miliknya bahkan sudah dapat membiayai kebutuhan hidup keluarganya.
Sebagian pendapatan disisihkan untuk ditabung di bank.
Mathius beristerikan seorang wanita asal Flores, Nusa Tenggara Timur dan kini telah dikaruniai tiga orang putra-putri yang sudah mulai bersekolah.
"Semua aset yang saya miliki ini diperoleh berkat bantuan LPMAK. LPMAK sudah menolong saya dari tidak punya apa-apa, tapi kini sudah bisa mandiri," kata Mathius.
Ia menuturkan, ikan produksi keramba miliknya dijual bervariasi sesuai jenis dan ukurannya.
"Ikan nila saya jual Rp80 ribu per kilo, sedangkan ikan mas lebih mahal sampai Rp180 ribu per kilo. Saya punya langganan khusus dengan beberapa rumah makan di Timika," ujar Mathius.
Menurut dia, proses pembesaran ikan melalui pola keramba jaring apung membutuhkan waktu sekitar tiga hingga enam bulan baru bisa dijual. Perkembangan bobot ikan peliharaannya juga bergantung pada kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan.
"Persoalan utama yang kami hadapi yaitu harga pakan ikan di pasaran Timika sangat mahal. Harga pakan satu karung (isi 50 kg) di Timika sekarang Rp350 ribu-Rp370 ribu. Beruntung, saya dibantu modal dan juga pakan ikan dari LPMAK. Tapi ada kalanya saya terpaksa harus beli sendiri," ujar Mathius.
Meski menghadapi berbagai tantangan dalam menggeluti usaha budidaya ikan keramba jaring apung tersebut, Mathius bertekad untuk terus melakoni usaha tersebut.
"Saya sudah mencintai pekerjaan ini. Kalau saya kerja usaha yang lain, rasanya ganjil. Saya berharap semakin banyak anak-anak asli Papua terutama dari Suku Dani yang bisa menggeluti usaha ini. Saya siap membagi ilmu ke mereka, yang terpenting mereka mau tekun bekerja, bukan hanya jadi kaum pengangguran yang menunggu bantuan dari pemerintah atau lembaga," ujarnya.
Pengembangan Ekonomi Mandiri
Kepala Biro Ekonomi Suku Dani LPMAK Willem Wakerkwa mengatakan selama periode 2007 hingga 2012, LPMAK memberikan bantuan dana bergulir kepada 297 kelompok swadaya mandiri (KSM) Suku Dani di Kabupaten Mimika.
Namun setelah dilakukan evaluasi, dari ratusan KSM itu, yang ditingkatkan statusnya menjadi Pengembangan Ekonomi Mandiri (PEM) hanya 14 kelompok.
Salah satunya diantaranya yaitu usaha perikanan keramba jaring apung milik Mathius di kawasan bendungan Jalan Sosial, Kelurahan Kebon Sirih, Timika.
"Kami turun ke lapangan mengecek usaha mereka. Setelah dievaluasi, yang layak ditingkatkan menjadi PEM hanya 14 kelompok. Sekarang malah tinggal 12 kelompok yang kami bina. Mereka bergerak di bidang usaha peternakan babi, perindustrian dan perdagangan dan perikanan," jelas Willem.
Willem mengatakan permasalahan utama yang dihadapi kelompok-kelompok usaha binaan Biro Ekonomi Suku Dani yaitu kurang tekunnya kelompok-kelompok tersebut untuk menjalankan usaha mereka.
Belum lagi ada banyak persoalan konflik sosial dan keluarga menyebabkan warga yang tergabung dalam kelompok-kelompok usaha tidak lagi fokus untuk mengurus usaha mereka.
"Ada banyak soal sehingga kelompok-kelompok usaha milik masyarakat Suku Dani itu macet usahanya seperti masalah dalam keluarga, ditambah lagi dengan maraknya konflik sosial antarsuku di Timika akhir-akhir ini," ujar Willem.
Willem cukup berbangga lantaran Mathius Elosak, salah satu pelaku usaha binaan Biro Ekonomi Suku Dani LPMAK kini sudah bisa mandiri.
"Mathius ini salah satu warga binaan kami yang sudah cukup sukses. Lembaga (LPMAK) tentu bangga. Tapi yang lebih berbangga, tentu keluarganya sendiri karena mereka sekarang tidak lagi bergantung kepada orang lain untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Malah dia bisa membantu keluarga, saudara-saudaranya yang lain dari usaha keramba ikan," kata Willem.
Biro Ekonomi Suku Dani LPMAK hingga kini belum berencana mendorong warganya agar terlibat dalam usaha pertanian dan peternakan ayam petelur sebagaimana yang sudah dirintis oleh biro-biro ekonomi suku lainnya seperti Biro Ekonomi Suku Amungme, Biro Ekonomi Suku Kamoro, Biro Ekonomi Suku Mee dan Biro Ekonomi Suku Nduga.
"Sejak awal kami tegaskan ke masyarakat Dani yang ada di Timika, kalian buat usaha. Kalau usahanya sudah jalan bagus, tim kami dari LPMAK datang lakukan survei untuk melihat kelayakan usahanya. Kita analisis untung dan rutinya. Kalau memang layak, kita bantu permodalan. Jadi, motivasi untuk berusaha itu harus datang dari masyarakat sendiri, bukan karena dipaksakan oleh orang lain," jelas Willem.
Willem berharap ke depan LPMAK mendatangkan para instruktur dan konsultan di bidang pertanian, peternakan dan perikanan untuk melatih warga lokal tujuh suku (Amungme, Kamoro, Dani, Damal, Nduga, Moni dan Mee/Ekagi) agar bisa mengelola usaha secara profesional.
"Saya selalu mengusulkan agar LPMAK membangun semacam Balai Latihan Kerja/BLK untuk melatih warga Papua bagaimana cara beternak ayam petelur, bagaimana budidaya perikanan yang benar, bagaimana mengelola lahan yang ada untuk ditanami tanaman perdagangan dan lainnya. Semua ini harus dilatih agar masyarakat Papua paham dan dari usaha itu bisa menghidupi ekonomi rumah tangga mereka," ujarnya.
Willem yang sudah sekitar 15 tahun terlibat dalam kegiatan dan program pemberdayaan masyarakat lokal Papua di sekitar area pertambangan PT Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika mengakui peran LPMAK sangat besar dalam memperhatikan kelangsungan masa depan warga asli Papua.
Sejak 1996 hingga kini, katanya, LPMAK terlibat dalam hampir seluruh aspek kehidupan warga asli Papua di Mimika mulai dari bidang pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sebelum direposisi menjadi LPMAK, lembaga yang mengelola dana kemitraan dari PT Freeport Indonesia untuk masyarakat lokal sekitar area tambang itu bernama Pengembangan Wilayah Timika Terpadu/PWT2) dan kemudian berubah menjadi Lembaga Pengembangan Masyarakat Irian Jaya/LPM-Irja.
"Bagi masyarakat tujuh suku di Kabupaten Mimika, LPMAK ini ibarat pemerintah daerah karena menangani semua bidang mulai dari pendidikan, kesehatan dan program ekonomi. Itu kenyataan di lapangan. Tanpa adanya lembaga ini, saya tidak tahu bagaimana nasib masyarakat saya," ujar Willem.
Ia berharap ke depan kemitraan antara Pemkab Mimika dengan LPMAK maupun PT Freeport Indonesia semakin terjalin baik untuk mendorong peningkatkan derajat dan kualitas kesejahteraan rakyat setempat. (*)

