Jayapura (ANTARA) - Majelis Rakyat Papua (MRP) di Provinsi Papua melalui Kelompok Kerja (Pokja) Agama memberikan apresiasi yang tinggi atas penyelenggaraan Festival Sagu oleh masyarakat adat Kampung Yoboi, Kabupaten Jayapura, 1-2 Maret 2025.
Anggota MRP Pokja Agama Dorlince Mehue kepada ANTARA di Sentani, Minggu, mengatakan Festival Sagu dinilai sebagai upaya strategis dalam melestarikan kearifan lokal dan memperkuat identitas budaya Papua.
"Festival Sagu ini melibatkan tiga kampung yakni Yoboi, Simporo dan Babrongko (YOSIBA), yang menampilkan produk-produk hasil olahan sagu, serta demonstrasi mengolah sagu menggunakan teknologi modern," katanya.
Menurut Dorlince, sagu bukan sekedar sumber pangan, melainkan simbol peradaban dan jati diri masyarakat Papua khususnya yang mendiami tiga kampung yakni YOSIBA.
"Sagu merupakan ibu kehidupan kami, melalui festival ini kami ingin mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan akar budaya dan terus menjaga kelestarian alam," ujarnya.
Dia menjelaskan sagu telah menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat Yoboi selama berabad-abad. Selain sebagai bahan pangan, tanaman sagu berperan penting dalam menjaga ekosistem rawa dan mencegah perubahan iklim.
"Kearifan lokal dalam mengelola sagu juga mencerminkan harmoni antara manusia dan alam, yang kini mulai tergerus oleh modernisasi," katanya lagi.
Dia menambahkan Festival Sagu dinilainya sebagai langkah konkret dalam memperkuat perlindungan hak-hak masyarakat adat Papua di tengah dinamika pembangunan. Pelestarian sagu juga sejalan dengan upaya global mengurangi ketergantungan pada beras dan menjaga biodiversitas.
"Kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada Analisis Papua Strategis (APS) yang telah menjembatani Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO UN) dengan masyarakat adat, sehingga masyarakat adat dapat memanfaatkan sagu secara berkelanjutan," ujarnya lagi.