Jayapura, 31/10 (Antara) - Dinas Kehutanan Papua telah menyalurkan 70 ribu bibit pohon untuk kegiatan penghijauan di Kota Jayapura dan sekitarnya.
Kepala Balai Pembenihan Tanaman Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Ning Sriastuti di Kota Jayapura, Papua, Sabtu mengatakan puluhan ribu bibit pohon disalurkan kepada lembaga swadaya masyarakat instansi pemerintah, sekolah-sekolah, lembaga keagaamaan, TNI-Polri, komunitas wartawan dan sebagainya.
Jenis bibit yang diproduksi oleh Balai Pembenihan Tanaman Hutan Dinas Kehutanan antara lain jenis kayu-kayuan, tanaman multiguna, tanaman hias, tanaman obat-obatan, matoa, sengon, trambesi, miongo dan lain-lain.
Selain menyalurkan bibit-bibit langsung ke kantor-kantor pemerintah dan warga, Dinas Kehutanan Papua juga bekerja sama dengan Pemerintah Kota Jayapura.
"Kami juga ada MoU dengan Wali Kota Jayapura Benhur Tommy Mano, untuk memenuhi kebutuhan penghijauan di dalam Kota Jayapura. Kebanyakan itu, ribuan bibit itu ditanam di sekitar pegunungan Cyclop yang masuk dalam cagar alam seperti di Keluarahan Angkasa dan Bhayangkara, Distrik Jayapura Utara, serta Buper Waena, Distrik Heram," katanya.
Untuk Kelurahan Angkasa, Bhayangkara dan Buper Waena, kata Ning Sriastuti, kondisi hutan di kawasan tersebut yang merupakan rangkaian dari pegunungan Cyclop bisa dikatakan sangat mengkhawatirkan dan perlu dihijaukan kembali.
"Penghijauan yang paling banyak dilakukan itu, di sekitaran pegunungan Cylop karena hutan di kawasan itu banyak alami kerusakan, sehingga Wali Kota Jayapura lebih banyak arahkan kegiatan penanaman keareal kritis tersebut yang masuk dalam kawasan cagar alam," katanya.
Dinas Kehutana juga mengembangkan tanaman endemik Papua, seperti sengon dari Wamena, ada ter dari Biak, amarus dan blumey dari Manokwari, kaum dan kandip dari Biak.
Ning Sriastuti menambahkan, pohon swang atau biasa disebut kayu swang perseberannya sudah berkurang di sekitar Kota Jayapura dan butuh dikembangbiak lagi.
"Itu arena terlalu banyak di eksploitasi keberadaannya di hutan, semakin sedikit dan kecil. Itu yang menggugah kita. Swang itu endemik Cyclop yang digunakaa untuk arang bakar ikan dan tiang kayu rumah berlabuh. Kami sedang kembangbiakkan," katanya. (*)